
Sumber Foto : SetaraMedia
SETARA.ID, DEPOK — Persoalan bullying di kalangan pelajar tidak dapat diselesaikan hanya dengan meminta seseorang untuk “lebih kuat”. Pencegahan perundungan membutuhkan keberanian untuk bersuara dan melawan, kepedulian dari lingkungan sekitar, serta sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan aparat penegak hukum. Semangat tersebut menjadi pesan utama dalam Seminar Anti-Bullying yang digelar mahasiswa KKN Naraveda 124 bersama siswa dan siswi di sekitar Kelurahan Curug, dengan melibatkan Polres Metro Depok, Polsek Bojongsari, dan Kelurahan Curug.
Kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi bagi para pelajar untuk memahami berbagai bentuk bullying, mulai dari perundungan verbal, fisik, hingga tindakan yang dilakukan melalui lingkungan digital. Peserta juga diajak memahami bahwa bullying bukan sekadar candaan antarteman, melainkan tindakan yang dapat memberikan dampak serius terhadap korban dan menciptakan lingkungan yang tidak aman.
Suasana seminar berlangsung interaktif melalui penyampaian materi, diskusi, dan komunikasi langsung dengan para peserta. Moderator turut membangun keberanian siswa untuk tidak menjadi korban maupun penonton yang memilih diam ketika melihat perundungan. Dalam salah satu pesannya, moderator menyampaikan kutipan yang menjadi simbol dalam acara seminar tersebut “Tidak tunduk terdiam untuk ditindas, tapi bangkit menatap untuk melawan, karena mundur adalah sebuah pengkhianatan.” Ujarnya
Pesan tersebut menjadi ajakan kepada para pelajar untuk berani mengambil sikap ketika menghadapi perundungan. Namun, keberanian yang dimaksud bukanlah membalas kekerasan dengan kekerasan, melainkan berani berbicara, mencari pertolongan, mendampingi korban, dan menggunakan jalur penyelesaian yang tepat.
Ketua KKN Naraveda 124, Muhammad Hisyam Azmi, menyampaikan bahwa seminar tersebut merupakan bagian dari upaya mahasiswa untuk memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya hadir untuk menjalankan program kerja, tetapi juga harus mampu membawa pengetahuan dan membangun kesadaran masyarakat terhadap persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Kegiatan ini bukan hanya tentang memberikan pemahaman kepada siswa mengenai bullying, tetapi bagaimana kita membangun keberanian untuk saling menjaga. Kami ingin para siswa memahami bahwa ketika melihat bullying, mereka tidak boleh memilih untuk diam,” ujar Muhammad Hisyam Azmi.
Dari unsur kepolisian, AKP Akhmadi, S.H. dari Polres Metro Depok turut memberikan pemahaman mengenai pentingnya menciptakan lingkungan yang aman bagi anak dan remaja. Kehadiran kepolisian dalam kegiatan tersebut juga memberikan perspektif bahwa tindakan kekerasan maupun perundungan memiliki konsekuensi dan tidak dapat dianggap sebagai persoalan sepele.
“Anak-anak harus berani menyampaikan ketika mengalami atau melihat tindakan yang tidak semestinya. Jangan takut untuk berbicara dan jangan menyelesaikan masalah dengan kekerasan,” pesan AKP Akhmadi, S.H. kepada para peserta.
Sementara itu, IPTU Mujahidin dari Polsek Bojongsari menekankan pentingnya membangun komunikasi antara pelajar, keluarga, lingkungan masyarakat, dan aparat. Menurutnya, pencegahan bullying tidak dapat hanya dibebankan kepada satu pihak karena lingkungan sosial memiliki pengaruh besar terhadap perilaku anak dan remaja.
“Keamanan dan kenyamanan lingkungan bukan hanya tanggung jawab kepolisian. Semua pihak harus ikut menjaga, termasuk para pelajar. Kalau ada persoalan, jangan takut untuk melapor dan mencari bantuan,” ungkap IPTU Mujahidin.
Dukungan terhadap kegiatan juga disampaikan oleh Sekretaris Kelurahan Curug, Ibu Wulan. Ia menilai edukasi mengenai bullying penting diberikan kepada generasi muda karena persoalan tersebut dapat muncul di berbagai ruang, baik lingkungan sekolah maupun masyarakat.
“Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini karena anak-anak perlu diberikan pemahaman sejak dini. Harapannya, mereka bisa saling menghargai, menjaga teman, dan menciptakan lingkungan yang nyaman bagi semuanya,” ujar Ibu Wulan.
Kolaborasi antara mahasiswa KKN, kepolisian, dan pemerintah kelurahan tersebut menunjukkan bahwa persoalan bullying membutuhkan pendekatan bersama. Edukasi menjadi langkah awal, tetapi perubahan tidak akan terjadi apabila lingkungan masih menganggap perundungan sebagai candaan atau persoalan biasa.
Lebih jauh, seminar tersebut memberikan pesan bahwa keberanian melawan bullying tidak selalu berarti melakukan perlawanan secara fisik. Berani berkata tidak, berani melapor, berani mendampingi korban, dan berani menghentikan budaya diam merupakan bentuk perlawanan yang jauh lebih penting.
Sebab, ketika bullying dibiarkan, yang tumbuh bukan hanya korban dan pelaku, tetapi juga budaya yang menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang normal. Karena itu, menciptakan lingkungan yang bebas dari perundungan bukan pekerjaan satu hari atau satu seminar, melainkan tanggung jawab bersama yang harus terus dibangun.
Editor : Redaksi Setara

