
SETARA.ID, JAKARTA – Ketua DEMA-FDIKOM, Zidan Ramdani, menyatakan penolakan terhadap rencana masuknya program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke lingkungan kampus. Menurutnya, program tersebut dinilai dapat menggeser fungsi utama perguruan tinggi sebagai ruang pendidikan, intelektual, dan pengembangan daya kritis mahasiswa.
Zidan menegaskan kampus seharusnya tetap berfokus pada pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat, bukan menjadi bagian dari proyek yang berpotensi mengganggu independensi akademik.
“Kami menolak keras adanya MBG karena dinilai mengesampingkan prioritas utama kampus, yaitu pendidikan. Jika proyek ini masuk ke kampus, berarti kampus mulai menjauh dari tujuan utamanya sebagai ruang intelektual,” ujarnya.
Ia juga menilai program tersebut berpotensi menjadi alat pemerintah untuk mengkooptasi gerakan mahasiswa. Menurutnya, keterlibatan kampus dalam proyek yang disertai kepentingan tertentu dan iming-iming material dapat memengaruhi kebebasan berpikir mahasiswa.
“Program ini tidak layak masuk kampus karena berpotensi menjadi cara pemerintah mengkooptasi gerakan mahasiswa. Ketika kampus menerima proyek yang disertai kepentingan tertentu dan hal-hal bersifat material, maka nalar kritis mahasiswa bisa perlahan dibunuh,” tegasnya.
Lebih lanjut, DEMA-FDIKOM menilai keberadaan program MBG di lingkungan perguruan tinggi dikhawatirkan tidak hanya mengganggu fungsi utama kampus, tetapi juga berdampak terhadap kehidupan akademik secara menyeluruh. Mereka khawatir independensi kampus akan semakin melemah apabila perguruan tinggi mulai terlibat dalam proyek-program yang dinilai berada di luar orientasi pendidikan.
Sebelumnya, Badan Gizi Nasional (BGN) mewacanakan keterlibatan perguruan tinggi dalam pelaksanaan program MBG, termasuk dalam pengelolaan dapur serta distribusi makanan bergizi. Wacana tersebut menuai beragam respons dari berbagai kalangan, termasuk organisasi mahasiswa.
Penulis: Syakir
Editor: Redaksi Setara


