Ciputat Disebut ‘Anak Tiri’ Tangsel, Dokumenter Ini Ungkap Ketimpangan Kota

Arif Siregar
Sumber Foto: LKBHMI Ciputat.

SETARA.ID, CIPUTAT – Sebuah film dokumenter berjudul “Ciputat Anak Tiri Tangsel” yang dirilis di YouTube tengah menjadi sorotan karena mengangkat persoalan ketimpangan pembangunan di wilayah Ciputat, Kota Tangerang Selatan.

Dokumenter ini menyoroti bagaimana kawasan tersebut berkembang cukup pesat, namun masih menyisakan sejumlah persoalan klasik seperti kemacetan, keterbatasan fasilitas publik, serta ketimpangan perhatian pembangunan dibanding wilayah lain di Tangerang Selatan.

Film ini menggunakan pendekatan naratif yang memadukan visual keseharian warga dengan wawancara dari berbagai narasumber, mulai dari organisasi mahasiswa, warga sekitar, hingga akademisi. Melalui pendekatan tersebut, dokumenter ini tidak hanya menampilkan kondisi lapangan, tetapi juga mencoba membangun analisis mengenai arah kebijakan pembangunan perkotaan di wilayah tersebut.

Dalam salah satu bagian narasinya, film ini menggambarkan kondisi Ciputat sebagai wilayah yang “terus tumbuh, namun tidak selalu diiringi dengan pemerataan fasilitas publik dan infrastruktur dasar yang memadai”. Sementara itu, pada bagian lain juga disampaikan bahwa “kemacetan dan kepadatan aktivitas warga telah menjadi bagian dari keseharian yang seolah dianggap normal dalam dinamika kota”.

Sutradara film ini, Ari Indrawan, menjelaskan bahwa proses pembuatan dokumenter ini berangkat dari kegelisahan terhadap kondisi perkotaan yang dialami langsung oleh masyarakat sehari-hari. Ia menyebut proses produksi dilakukan melalui observasi lapangan, diskusi dengan warga, serta pengumpulan perspektif dari berbagai pihak yang berkaitan dengan isu perkotaan di Ciputat.

“Film ini kami buat dari keresahan yang sederhana, yaitu bagaimana warga setiap hari berhadapan dengan kemacetan, keterbatasan ruang publik, dan ketimpangan fasilitas, tetapi hal itu seakan menjadi sesuatu yang biasa saja. Kami ingin mengangkat itu ke ruang publik agar bisa dibicarakan lebih luas,” ujar Ari.

Ia menambahkan, tujuan utama dari dokumenter ini adalah membuka ruang diskusi terkait arah pembangunan kota. Menurutnya, isu yang diangkat bukan hanya soal masalah teknis infrastruktur, tetapi juga soal keadilan pembangunan bagi warga kota.

“Kami tidak hanya ingin menunjukkan masalah, tapi juga mendorong adanya diskusi. Harapannya, ini bisa menjadi bahan refleksi bersama tentang bagaimana sebuah kota seharusnya dibangun dan untuk siapa pembangunan itu ditujukan,” tambahnya.

Isu kemacetan menjadi salah satu fokus utama yang diangkat dalam film ini. Ciputat digambarkan sebagai salah satu titik mobilitas tinggi yang kerap mengalami kepadatan lalu lintas, terutama pada jam sibuk. Kondisi ini diperkuat dengan visual jalanan padat, aktivitas transportasi publik, serta minimnya ruang publik yang representatif bagi warga.

Selain itu, dokumenter ini juga menyoroti persoalan fasilitas publik yang dinilai belum seimbang dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut. Hal ini memunculkan persepsi di sebagian masyarakat bahwa Ciputat kerap berada dalam posisi “tertinggal” dalam prioritas pembangunan daerah.

Film ini juga menghadirkan pandangan dari kalangan mahasiswa dan aktivis lokal yang menilai bahwa ketimpangan pembangunan bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga soal bagaimana kebijakan kota diprioritaskan. Dari perspektif tersebut, Ciputat disebut sebagai contoh ruang urban yang mengalami tekanan pertumbuhan tanpa dukungan fasilitas yang sepadan.

Di balik produksinya, dokumenter ini digarap oleh tim kreatif dari Lampu Hijau Ciputat, sebuah Tim yang dibentuk Oleh LKBHMI Ciputat yang fokus pada isu sosial dan perkotaan di wilayah Ciputat dan sekitarnya, dengan melibatkan jejaring mahasiswa serta elemen lokal dalam proses riset dan produksi.

Film dokumenter “Ciputat Anak Tiri Tangsel” dapat disaksikan melalui channel YouTube LKBHMI Ciputat, yang menjadi wadah publikasi utama karya tersebut dan berbagai konten lain terkait isu sosial perkotaan di wilayah Tangerang Selatan.

Editor: Redaksi Setara

Share It:

Tags :

Arif Siregar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Pupolar

Artikel Terbaru

Find Us on Youtube

SETARA.id

Menjadi media rujukan yang kredibel dalam membangun ruang publik yang setara, rasional, dan berkeadilan melalui jurnalisme yang berintegritas dan berbasis kepentingan publik.

Copyright © 2026 All Right Reserved Setara.id