Muhammad Ali Pasha: Bapak Modernisme Islam di Tengah Tekanan Politik Barat dan Timur

Dodi Febriansyah
Muhammad Ali Pasha, mantan Gubernur Mesir yang mengenalkan Mesir terhadap hal-hal modern (W.1849) (Gambar: IBtimes.id)

SETARA.ID, BIOGRAFI – mendengar istilah modernisme menjadikan seolah suatu istilah tersebut sengaja diciptakan di Negara Barat sebagai sentralisasi sistem tradisional ke polarisasi modern dengan meningkatnya kemajuan politik, ekonomi dan pengetahuan.

Seringkali ahli sejarah hanya memunculkan ke permukaan “modernisasi dunia barat” dan mengabaikan adanya waktu yang didahulukan untuk mengetahui secara signifikan alokasi waktu dan pemikiran dari sebuah observasi sejarah, seolah-olah majunya peradaban sengaja diciptakan oleh negara barat sebagai manifestasi terhadap orang-orang agar tidak kembali pada jalan yang tradisionil.

Misalnya, dalam aspek visual atau seni yang dikenalkan oleh Edouard Manet, seorang pelukis dari Prancis pada awal 1860-an, yang kemudian mengganti pera seni klasik dengan menghidupkan kehidupan modern.

Modernisasi tidak hanya melalui dari aspek seni, kemajuan modernisme dengan meningkatkan sistem pertahanan yang kokoh, kemandian ekonomi, dan pengetahuan yang selektif pernah dikenalkan oleh mantan Gubernur Mesir, yaitu Muhammad Ali Pasha.

Jauh sebelum dunia barat mengenalkan istilah modernisme, Muhammad Ali Pasha sebagai tokoh Islam pernah memberikan pemikiran modern dalam bentuk selektif westernisme untuk perkembangan Mesir masa itu.

Tapak Tilas Muhammad Ali Pasha

Muhammad Ali Pasha merupakan perwira kesultanan Ottoman Turki yang kemudian di lantik sebagai Gubernur Mesir. Lahir pada tahun 1769 M di Qawalah, Macedonia, sebuah negara yang berada di pertengahan benua Eropa dekat Yunani. Banyak interpretasi yang mengatakan bahwa Ali Pasha tida sekolah sehingga ia tidak bisa membaca dan menulis. Ada pula yang mengatakan bahwa ia bukan keturunan Arab melainkan orang Albania yang kemudian menjadi perwira Ottoman Turki.

Kendatipun tidak sekolah, beliau seorang yang jenius dan merupakan salah satu pendiri Mesir modern di abad 18. Menurut Chambers bahwa Ali Pasha lahir setelah Napoleon lahir. Beliau masuk pada tatanan militer dan memperoleh piagam militer tatkala beliau masih muda. Umur 18 tahun beliau menikah dengan keluarga anak pengusaha tembakau.

Peristiwa gentingnya, ketika kerajaan Turki memerintahkan adanya mobilisasi untuk menyerang Napoleon di wilayah Mesir (1798), beliau terpilih sebagai salah satu komandan tentara dengan sejumlah 300 pasukan yang dibawanya dari Qawalah dan mendarat di Aboukir pada 1799.

Pada tahun 1801 beliau berhasil mengusir Prancis dari Mesir. Pada saat yang sama, beliau memilih menetap di Mesir sebagai tentara Turki, sehingga pada tahun 1803 beliau berhasil menghimpun pasukan sebanyak 3000 sampai 4000 pasukan.

Tradisional dan Majunya Mesir Oleh Ali Pasha

Napoleon masuk ke Mesir pada tahun 1798 dengan melancarkan serangan ke Alexandria, kemudian menuju ke Kairo. Setibanya di Anbabah, terjadilah pertempuran antara Napoleon dengan pasukan Mamalik (ketika masa pemerintahan Mesir kala itu). Dalam pertempuran ini, Napoleon memperoleh kemenangan dan menjadikan Mesir sebagai bangsa Arab pertama yang jatuh ke tangan Eropa.

Mesir merupakan negara yang dapat merugikan satu pihak dan menguntungkan pihak yang lain. Pasalnya, ketika Prancis berhasil menaklukan Mesir, maka Inggris akan membuat perlawanan karena menilai Mesir merupakan kunci perdagangan dunia dan Inggris. Sedangkan pada saat itu Prancis dan Inggris sedang bermusuhan.

Dr. Hazem Zaki Nuseibeh menuturkan bahwa salah satu kebangkitan Islam di Timur Tengah diprakarsai oleh Mesir disebabkan adaya tekanan kolonialisme Prancis dan eksploitasi Inggris pada tahun 1798. Sebelum itu, negara-negara Arab tidak mengalami kemajuan Barat semenjak perjumpaan mereka terakhir dengan Barat pasca Perang Salib.

Menapaki Mesir sebagai medan utama pertempuran Barat dan Timur, sehingga Ali Pasha mengambil keuntungan untuk menghubungkan antara Barat dan Timur pengetahuan dan kebudayaan yang kemudian membuka kembali terusan Kota Suez, yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Tengah sehingga munculnya perubahan besar dalam sejarah politik dan perdagangan dunia dan tertuplah antara Barat dan Timur.

Napoleon datang ke Mesir membawa beberapa cetakan Arab yang di ambil dari Vatikan, sehingga menjadi kemanfaatan pengetahuan bagi Mesir. Di samping itu, Prancis juga membawa dan memperkenalkan alat-alat militer yang lebih modern. Manfaat ini kemudian dikendalikan oleh Ali Pasha dan mampu memberhentikan ekspedisi Prancis dengan mengusir Napoleon dari Mesir.

Hal ini juga Mesir memanfaatkan arus ideologi selama fase penjajahan Prancis dengan “Westernisme” (pembaratan) menjadi semangat cendikiawan Mesir untuk mengejar ketertinggalannya dari dunia Barat. Oleh karena itu, peniruan terhadap kemajuan materil Barat dapat dipahami oleh Mesir.

Tesis Pemikiran Ali Pasha

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Ali Pasha bukan orang yang pandai membaca dan menulis, akan tetapi beliau merupakan orang cerdik dan genius. Dapat dipahami bahwa buah pemikirannya terdapat pada dua kondisi mesir saat itu. Singkatnya, mengorganisir kembali sistem pertahanan, keamanan dan mengembalikan tata kerja sosial, ekonomi dan budaya.

Pasca mengusir Napoleon dari Mesir pada tahun 1801, Ali Pasha menyadari bahwa landasan utama untuk membangun kejayaan tersebut dengan membangun tentara dan memodernisir dengan pengetahuan dan memperkenalkan dengan alat-alat militer Barat untuk membantu penjagaan keamanan dan terpeliharanya pertahanan.

Di Mesir, selama kepemimpinan Muhammad Ali Pasha membuka akademi militer dengan tujuan untuk menggantikan sistem yang lama dengan sistem yang baru. Hal ini guna menjadikan Mesir untuk tetap waspada dan terbuka terhadap perkembangan kekuatan politik dunia.

Pergerakan Nasionalisme Mesir bangkit sebagai reaksioner masyarakat dari penindasan Napoleon dan menentang Turki dengan melepaskan diri yang bertujuan untuk melawan kependudukan Inggris. Mengapa Inggris ikut diserang oleh Mesir? Nasionalisme Mesir atau Nasionalisme Arab mendapuk gagasan-gagasan nasionalis untuk mengatasi keadaan yang timpang yang kemudian menghubungkan gerakan dengan basis nilai Islam atau yang kemudian hari dikenal dengan “Pan-Islamisme”.

Ia menjadikan sektor pertanian, terutama kapas, sebagai sumber utama kekuatan ekonomi Mesir. Negara mengatur produksi dan perdagangan hasil pertanian agar keuntungan dapat digunakan untuk membangun industri dan memperkuat militer. Pemikiran ini menunjukkan bahwa ia melihat ekonomi sebagai fondasi utama kemajuan negara.

Dalam pandangannya, kebudayaan harus berkembang seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan pendidikan. Muhammad Ali Pasha mendirikan berbagai sekolah modern yang mengajarkan ilmu kedokteran, teknik, militer, hingga penerjemahan bahasa asing. Ia juga mengirim pelajar Mesir ke Eropa agar masyarakat Mesir dapat mengenal perkembangan ilmu dan budaya modern.

Tokoh pembaharu Islam seperti Muhammad Ali Pasha mampu membawa Mesir yang tradisionil ke kancah Modernis. Ia menekankan aspek modernisme dalam bidang pertahanan militer, terapan Nasionalisme Islam untuk meningkatkan ekonomi lokal, dan kebudayaan dan pendidikan. Kendatipun demikian, Muhammad Ali Pasha tidak menghendaki westernisasi secara penuh. Ia tetap mempertahankan nilai-nilai Islam dan tradisi lokal sebagai identitas masyarakat Mesir.

Editor: Redaksi Setara

Share It:

Tags :

Dodi Febriansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Pupolar

Artikel Terbaru

Find Us on Youtube

SETARA.id

Menjadi media rujukan yang kredibel dalam membangun ruang publik yang setara, rasional, dan berkeadilan melalui jurnalisme yang berintegritas dan berbasis kepentingan publik.

Copyright © 2026 All Right Reserved Setara.id