
Di dalam sebuah laci tua, Mira menemukan sebuah amplop yang sudah menguning dimakan waktu. Di bagian depan tertulis sebuah nama yang sudah lama tidak ia dengar lagi. Tangannya gemetar ketika membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat selembar kertas yang berisi tulisan tangan yang rapi. Surat itu ditulis bertahun-tahun lalu oleh seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Setiap kalimat dalam surat itu terasa seperti membuka kembali pintu kenangan yang selama ini ia coba lupakan.
Surat itu tidak pernah dikirimkan. Mungkin karena rasa ragu, mungkin juga karena keadaan yang tidak memungkinkan. Namun kata-kata yang tertulis di dalamnya tetap menyimpan perasaan yang tulus.
Mira menutup kembali surat itu dengan hati yang penuh campuran emosi. Ia menyadari bahwa beberapa cerita dalam hidup memang tidak pernah benar-benar selesai.


