
Hujan turun dengan deras ketika Raka berdiri di peron stasiun tua. Suara air yang jatuh di atap seng menciptakan irama yang aneh namun menenangkan.
Ia datang ke tempat itu tanpa tujuan yang jelas. Stasiun tua ini sudah lama tidak digunakan, tetapi baginya tempat ini menyimpan banyak kenangan tentang perjalanan hidupnya.
Di tempat ini ia pernah berpamitan dengan seseorang yang sangat ia cintai. Kereta yang membawa orang itu pergi juga membawa sebagian dari hatinya.
Hujan terus turun hingga malam tiba. Namun bagi Raka, setiap tetes hujan terasa seperti pengingat bahwa hidup selalu bergerak maju, bahkan ketika hati masih tertinggal di masa lalu.


