
Langit sore berwarna jingga ketika Arga berjalan menyusuri jalan kecil di ujung kota. Ia baru saja pulang dari tempat kerja yang terasa semakin menyesakkan setiap hari. Kota yang dulu ia cintai kini terasa berbeda, penuh dengan gedung tinggi dan jalanan yang tak pernah sepi dari suara kendaraan.
Arga berhenti di sebuah bangku taman yang sudah mulai usang. Di tempat itu, ia sering menghabiskan waktu ketika masih remaja. Dulu taman ini selalu ramai oleh tawa anak-anak, namun sekarang hanya beberapa orang yang lewat tanpa benar-benar memperhatikan sekeliling mereka.
Sambil memandang matahari yang perlahan tenggelam, Arga teringat pada masa-masa ketika hidup terasa lebih sederhana. Ia merindukan percakapan panjang dengan teman-temannya, permainan sepak bola di lapangan tanah, dan tawa yang muncul tanpa alasan.
Ketika senja benar-benar hilang, Arga menyadari bahwa waktu memang tidak pernah berhenti. Kota boleh berubah, kehidupan boleh berjalan ke arah yang tak terduga, tetapi kenangan akan selalu menemukan jalannya untuk kembali.


