
SETARA.ID, BIOGRAFI – Seseorang pasti memiliki kekurangan dalam kehidupan. Pun juga tak lupa dalam diri Taha Hussein yang memiliki keterbatasan fisik yang dialaminya sedari dini, tidak mengubah pandangannya dalam menghadapi kerasnya dunia.
Kehilangan penglihatan akibat kesalahan medis membentuk keteguhan dalam hatinya. Secara simultan, dalam masih belajar di bangku Al-Azhar, perjumpaan dengan salah satu syaikh merubah pandangannya. Panggilan diskriminatif “ya a’ma” yang artinya wahai orang buta membentuk keteguhan hatinya untuk terus melanjutkan belajarnya hingga menjelma sebagai sastrawan dan pemikir liberal asal Mesir.
Salah satu karya monumental, yaitu Al-Ayyam, Taha Hussein tidak hanya mengisahkan tentang pengalaman dirinya sebagai seorang anak yang disabilitas tapi juga memberikan insight untuk melawan diskriminasi, minim fasilitas pendidikan, dan tradisi intelektual yang menolak sebuah kritikan.
Bagaimana kisah selengkapnya? Untuk mengetahui siapa Taha Hussein lebih kompleks, melalui biografi, insiden diskriminasi, pendidikan dan pemikirannya membantu bagaimana Islam melarang adanya diskriminasi, dan uraian-uraian pembaharuan intelektual yang lebih progresif.
Anak Kecil yang Penuh Keterbatasan
Nama sebutannya adalah Taha Hussein, memiliki nama lengkap Taha bin Hussein bin Ali bin Salamah adalah tokoh pemikir liberal asal Mesir. Beliau lahir pada 14 November 1889 di sebuah desa kecil di Mesir yang bernama Maghragha. Menjadi anak ke 13 dari 15 bersaudara.
Beliau hidup bersama ayah dan ibunya, ayahnya merupakan seorang muslim yang taat. Sedari kecil Taha sudah dipaksa oleh ayahnya untuk menghafal Al-Qur’an. Saat berusia 2 tahun beliau mengalami penyakit cacar (opthalmia) yang menyebabkan mengalami kebutaan hingga usia 6 tahun mengalami kebutaan total.
Dalam kondisi yang buta, beliau sangat menyukai ilmu dan belajar hingga tidak berhenti pada tingkat dasar. Melalui bantuan saudara-saudaranya, beliau tetap melanjutkan hingga pendidikan tertinggi.
Usia 9 tahun beliau sudah banyak menghafal syair, cerita, dan doa-doa. Pernah suatu waktu di rumahnya ketika ayahnya menyuruhnya untuk menghafal beberapa ayat Al-Qur’an, namun beliau hanya hafal satu baris saja hingga membuat ayahnya marah. Taha tidak putus asa untuk tetap menyelesaikan hafalan Al-Qur’annya dan berhasil.
Pada tahun 1902 insiden diskriminasi itu terjadi. Saat itu usia beliau 13 tahun, beliau belajar di Universitas Al-Azhar. Pengalaman ini yang mengubah sudut pandangnya terhadap seorang syaikh. Hal ini dipicu karena perlakuan diskriminasi sebutan “ya a’ma” yang artinya “wahai orang buta”, sebutan ini ia dapatkan ketika banyak pelajar yang lain.
Alih-alih larut dalam rasa rendah diri, pengalaman tersebut justru memperkuat tekadnya untuk membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan bukanlah penghalang untuk menjadi seorang ilmuwan. Ia semakin giat belajar dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis.
Pengalaman itu juga turut membentuk pandangannya mengenai pentingnya penghormatan terhadap martabat manusia dalam dunia pendidikan. Menurut Thaha Husain, lembaga pendidikan seharusnya menjadi tempat yang memuliakan akal dan ilmu pengetahuan, bukan ruang yang mempertajam diskriminasi terhadap kondisi fisik seseorang.
Selama belajar di Al-Azhar dalam waktu 6 tahun, beliau gagal mendapatkan gelar diploma alamiah. Simultan, beliau tidak pernah puas untuk terus belajar sehingga memutuskan untuk belajar di Universitas Mesir. Di Universitas Mesir beliau mengetahui banyak hal, seperti belajar sejarah, politik dan filsafat. Salah satunya juga beliau mengenyam pembelajaran orientalis Eropa dari dosennya yang mengajar di kampus tersebut.
Selama kuliah di Universitas Mesir tersebut, pada tahun 1914 beliau mendapa gelar doktor dengan predikat cumlude. Tahun yang sama pada bulan Mei, beliau mendapatkan beasiswa melanjutkan studi ke Paris di Kota Montpellier. Beliau mendalami sejarah, mendalami sastra, dan memahami bahasa Prancis. Sehingga selama di Paris beliau tidak pernah kesulitan memahami materi karena beliau memahami dua bahasa, yaitu bahasa Prancis dan bahasa Latin.
Beliau kembali ke Mesir pada tahun 1919, menjadi dosen dan megajar sejarah Yunani dan Romawi di Universitas Kairo di tahun 1925. Tahun 1922 selain menjadi dosen, beliau redaktur koran Al-Siyasat.
Beliau banyak menulis dan menerbitkan buku, menunjukkan begitu produktifnya selama hidup beliau. Bahkan ketika menjelang wafatnya pada tahun 1973, beliau mendapatkan gelar ‘Amid Al-Adab Al-Arabi (pelopor sastra arab).
Pembaharu Islam yang Kontroversial
Selama menempuh pendidikan di Barat yang intensif. Taha Hussein menerapkan ide-ide dalam dunia politik yang sifat sekuler. Beliau menawarkan bagaimana peradaban barat telah membuat dunia semakin berkembang, dan tidak ada permasalahan jika umat Islam meniru peradaban barat.
Selain itu, beliau tidak pernah menerapkan tradisi-tradisi Islam dalam segala aspek pengetahuannya. Beliau dalam pemikiran politiknya berupaya untuk melepaskan umat Islam dari pendapat-pendapat lama yang sering katanya bersumber sebagai dogma Islam. Menurutnya, agama dan politik memiliki unsur yang berbeda, baik secara sistem maupun pembentukan sebuah negara. Islam membentuk negara syar’i sedangkan politik membentuk negara republik.
Selain dari sekularisme terhadap politik, beliau juga menerapkan metodologi filsafat keraguan Descartes dan menjadi kritikus terhadap sastra-sastra pra-Islam yang menurutnya palsu. Salah satu pendapatnya yang memicu pro-kontra adalah sastra Arab Jahiliyah tidak pernah mencerminkan kehidupan bangsa Arab dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan untuk merendahkan bangsa lain.
Muhammad Ash-Shadiq Afifi memberikan komentar bahwa Taha Hussein melakukan analisis yang kurang jeli, beliau menambahkan bahwa Taha Hussein mengambil bahasa Arab baku pada saat bahasa Himyar memiliki perubahan bahasa pada pertengahan abad dua hijrah.
Buah hasil pemikiran Taha Hussein beradaptasi pada ide-ide orientalis. Hal ini sebagaimana beliau memberikan pendapat, bahwa Islam perlu mengadopsi cara berpikir dan cara membangun peradaban seperti Eropa. Pandangnya, hal ini merupakan solusi agar Islam bangkit dari kemunduran.
Demikianlah sekilas biografi dari Taha Hussein, seorang anak dari kecil yang memiliki keterbatasan fisik dan mendapatkan diskriminasi mampu mengguncang Mesir dengan pemikirannya yang kontroversial dan menjadi pembeda terhadap persoalan-persoalan baru Islam, tidak hanya memberikan sebuah pandangan mengenai jawaban Islam yang detil, akan tetapi juga mampu mengubah sebuah metodologi konvensional ke arah revolusioner.
Editor: Redaksi Setara


