Harga Minyak Goreng Kembali Melampaui HET

Arif Siregar
Foto: setaramedia.id

SETARA.ID, JAKARTA – Di tengah status Indonesia sebagai salah satu produsen sawit terbesar dunia, harga minyak goreng justru kembali menyesakkan dapur rakyat. Ironi ini kembali terasa ketika harga minyak goreng curah di berbagai daerah melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Bagi masyarakat kecil, kenaikan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan ancaman langsung terhadap kebutuhan harian.

Fenomena lama yang sempat muncul saat krisis minyak goreng 2022 kini perlahan kembali terlihat: warga membeli minyak goreng dalam ukuran kecil atau “satu-satu” karena tak lagi mampu membeli dalam jumlah besar. Situasi ini memperlihatkan bagaimana lonjakan harga pangan pokok masih menjadi persoalan serius yang belum sepenuhnya teratasi.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia, harga minyak goreng curah nasional telah mencapai Rp20.650 per kilogram, jauh di atas HET pemerintah sebesar Rp15.700/kg. Sementara data harian pasar modern yang dirilis Databoks Katadata menunjukkan harga minyak goreng curah berada di kisaran Rp18 ribu lebih per kilogram dan terus mengalami tren kenaikan.

Kondisi tersebut turut dikeluhkan para pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada minyak goreng sebagai bahan utama produksi. Pedagang gorengan hingga warung makan mengaku mulai kesulitan menjaga stabilitas harga jual di tengah biaya produksi yang terus naik.

Salah satu pedagang yang diwawancarai mengungkapkan bahwa pola belanja masyarakat mulai berubah akibat kenaikan harga minyak goreng.

“Sekarang pembeli yang beli satu liter atau dua liter mulai berkurang. Banyak yang beli sachet kecil atau beli seperlunya saja,” ujar seorang pedagang.

Sementara itu, pemerintah mengakui adanya tekanan harga pangan di pasar, termasuk minyak goreng. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan sebelumnya menyatakan bahwa pemerintah akan terus melakukan pemantauan distribusi dan pasokan agar harga tetap terkendali.

“Pemerintah terus memastikan distribusi berjalan baik dan pasokan tersedia supaya harga pangan bisa stabil,” kata Zulkifli Hasan dalam keterangannya terkait kondisi pangan nasional.

Di sisi lain, pelaku pasar menilai kenaikan harga minyak goreng dipengaruhi oleh naiknya harga crude palm oil (CPO) global serta faktor distribusi di dalam negeri. Tekanan tersebut akhirnya berdampak langsung pada harga jual di tingkat konsumen.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar mengenai efektivitas pengendalian harga pangan nasional. Sebab di negara dengan produksi sawit melimpah, masyarakat justru kembali dipaksa beradaptasi dengan harga minyak goreng yang semakin sulit dijangkau.

Editor: Redaksi Setara

Share It:

Tags :

Arif Siregar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Pupolar

Artikel Terbaru

Find Us on Youtube

SETARA.id

Menjadi media rujukan yang kredibel dalam membangun ruang publik yang setara, rasional, dan berkeadilan melalui jurnalisme yang berintegritas dan berbasis kepentingan publik.

Copyright © 2026 All Right Reserved Setara.id