
Setara.id, OPINI – Pasca tragedi revolusi Prancis hingga saat beberapa peristiwa terakhir, perbincangan dalam persoalan perempuan dan rentetan sampingannya mengenai kasus kekerasan seksual dan kesetaraan gender menjadi suatu momok yang tidak pernah usai dibahas dan kerap kali terjadi. Bahkan, dalam sudut pandangan kedua belah pihak antara laki-laki dan perempuan mengenai persoalan ini menjadi berseberangan argumen karena alasan bias emosional dan kurang logis.
Begitu pun di Indonesia, sudah tidak lagi menjadi bebas dalam mengeskpresikan sesuatu hal-hal kecil (seperti bersiul) sekalipun sudah tidak dianggap lagi sebagai euforia pribadi melainkan masuk pada ranah pelecehan dengan dalih sanksi subtil karena terjerat pasal tertentu. Hal ini mengindikasikan bahwa perempuan secara logis merasa aman, tidak hanya secara kultur, mereka juga aman secara konteks hukum. Dengan demikian, mengapa mereka selalu menggaung feminisme dan kesetaraan gender?
Kesetaraan gender dan Feminisme dalam perspektif perempuan acap kali mengharapkan kondisi sosial yang stabil antara perempuan dengan laki-laki dalam proporsi yang sama, baik secara hak maupun strategi peran dalam ruang publik. Secara faktualnya bahwa Feminisme ini merupakan golongan-golongan yang merasa termarjinalkan dalam konteks sosio-politik, sehingga mereka membuat agitasi dalam counter-idea dengan mengklaim bahwa laki-laki terlalu dominan.
Feminisme dan keseteraan gender dalam konteks teologi Islam juga memandang bahwa kontekstualisasi yang dipakai sebagai konsepsi moral menurut perempuan adalah self defense (pertahanan diri) yang bersemayam dalam keseteraan dan berseberangan. Maka dari itu, Tuhan pun tidak menjadikan kedua fungsi penciptaan laki-laki maupun perempuan itu sebagai satu fungsi komponen yang sama. Akan tetapi terletak pada peran yang berbeda dengan perolehan pahala yang sama.
Sejatinya dalam peradaban modernitas seperti saat ini, pembahasan yang selalu normatif tidak pernah merasa puas jika analisa yang dihasilkan selalu bersifat merendahkan martabat kehidupan perempuan. Seperti Aristoteles mengatakan perempuan merupakan laki-laki yang tidak sempurna disebabkan pemikiran perempuan yang tidak matang. Begitupun, Hegel yang mengatakan perempuan tidak dididik dengan mencari pengetahuan akan tetapi menghirup pengetahuan yang ada.
Apakah Feminisme dan kesetaraan gender yang mereka gaungkan selama ini merupakan konsepsi “pelarian” perempuan terhadap sosio-politik yang didominasi patriarki (laki-laki) menyebabkan mereka mendapatkan ketidakadilan yang sama? Atau perempuan sendiri yang merasa dirinya masih terjerat dengan “kultur” kehidupan laki-laki dengan dalih bahwa itu belenggu patriarki yang membuat mereka tidak bebas dalam berekspresi?
KARTINI TERNYATA MATRIARKI BUKAN FEMINIS
Indonesia memiliki personifikasi sebagai simbol perlawanan perempuan dan terkenal karena mempunyai slogan “Habis terang terbitlah terang” dan juga merupakan pahlawan nasional, R.A Kartini. Sosok perempuan Jawa yang mengkhidmahkan diri kepada bangsa dan negara dalam menghapus kelas sosial pemerintah Belanda. Pada saat yang sama dia juga terbelenggu oleh kultur budaya patriarki dari ayahnya sebab nasib yang tidak jelas. Akan tetapi, semangat belajar dan beradu gagasannya tidak pernah padam dalam dirinya.
Feminisme dan kesetaraan gender yang digaungkan oleh Kartini merupakan konsepsi pembebasan dalam ranah pendidikan dan kesempatan berkarya dalam ruang yang sama. Kondisi di mana sifat matriarki Kartini sangat kentara dalam mengambil alih fungsi peran laki-laki untuk bertindak secara tegas. Hal ini, dapat dilihat bagaimana contoh Kartini dalam menyampaikan pesan dalam suratnya bahwa ia dalam belenggu kultur orang tua dan sistem pemerintahan.
Istilah emansipatoris Kartini ini dijadikan idiom sebagai “Ginonjing” yang merupakan konteks ketidakstabilan Kartini dalam memandang kehidupan. Sunardi menyampaikan bahwa Kartini memiliki beberapa emansipasi yang signifikan, baik dalam semangat perubahan, pendidikan dan pemerintahan, kultur keluarga, bahasa, dan rasa terhadap seni dan kesusasteraannya. Nah, jika konteks saat ini, apakah emansipasi perempuan perspektif Kartini dijadikan penafsiran pada kasus yang sama?
Kartini sebagai sosok matriarkat berupaya mempersonifikasikan dirinya pada tatanan personal improvement (peningkatan pribadi) sebagai contoh eksistensi feminisme. Kesetaraan bagi Kartini bukan input pada studi kasus melainkan pada peningkatan kebutuhan individu dalam memahami kodrat kehidupannya. Menjadi pribadi yang bebas dengan tidak terikat pada kultur dan struktur sosial yang membuatnya tidak berkembang secara normal.
Kartini adalah contoh yang layak dijadikan ibrah yang absah oleh kaum perempuan, bagaimana personifikasinya hingga saat ini merupakan branding yang nyata untuk menjadi perempuan yang utuh dan setara dengan laki-laki. Sejatinya, kehidupan zaman dulu memang tidak seekstrem kehidupan sekarang. Namun, dapat dilihat bahwa dengan memahami diri sendiri merupakan peluang untuk menjadi puncak kesetaraan sebagaimana Kartini telah memberikan tamsil kepada semua orang, khususnya perempuan.
DOA KARTINI DALAM FEMINISME DAN KESETERAAN GENDER
Berbagai persoalan mengenai pelecehan, hak asasi, feminisme, kesetaraan gender hingga hukum, perempuan sejatinya merasa aman untuk personal improvement. Alih-alih untuk memahami diri sendiri justru mereka terpedaya oleh hal-hal yang membuat mereka candu. Contohnya narsistik yang berlebihan dengan majunya teknologi modern. Pada saat yang sama, mereka juga memakan mentah patriarki secara sadar dengan hubungan (pacaran) dengan dalih normalitas hidup.
Konteks ini secara nyata memberi pertanyaan, apakah konsepsi pemikiran feminisme yang mereka lantunkan adalah bukti nyata ketidakadilan sosio-politik dan budaya di lingkungan mereka atau karena mereka menjadikan feminisme sebagai pelarian ketika mereka merasa terancam karena kondisi tertentu. Bahkan ketika ada persoalan kasus mereka acap kali mengangkat isu tersebut sebagai ketidaksetaraan antara laki-laki yang dominan dan perempuan yang tertindas.
Nawal el-Sadawi pernah menyatakan kebebasan bagi perempuan dalam indeks feminisme bukan persoalan perbedaan hidup perempuan dan laki-laki. Akan tetapi, sebagai kritik sosial yang berkesinambungan pada perbedaan kelas, sistem ekonomi, ketimpangan hak, kekerasan dalam rumah tangga dan kultur budaya patriarki. Secara tidak langsung dia mengupayakan bagaimana perempuan selalu menggaung feminisme secara konsisten dan inklusif bukan karena beberapa insiden kemudian menjadikan laki-laki sebagai kambing hitam utuh.
Alangkah ironinya, jika insiden tertentu menjadi feminisme tumbuh, menjadi ruang dalam jangka pendek di saat perlindungan hukum, hak asasi sudah terpenuhi secara sistem. Seolah mereka tidak percaya diri dengan apa yang sudah diinvestasikan bagi mereka sebagai rasa aman dan melarikan diri dalam mencari framing untuk mencari dukungan moral. Apakah dengan mencari dukungan moral solusi jitu dalam meluluh lantakkan asumsi mereka tentang Patriarki?
Perempuan sejatinya hidup berkiblat pada kehidupan Kartini sebagai tamsil yang laik untuk menjadi feminis atau mungkin menjadi matriarkat (maskulinitas laki-laki berada pada perempuan). Bahkan jika mencari kambing hitam yang asli, Kartini pernah mengatakan bahwa agama menjauhkan kita dari dosa, tapi berapa banyak dosa yang dilakukan atas nama agama. Inilah kesetaraan gender bagi Kartini, mencari dalang yang merusak sistem yang aman, merusak moral padahal sudah berpendidikan, merusak cita-cita demi kultur yang tidak bebas.
Pada akhirnya dapat dipahami bahwa Kartini tetap hidup dengan menjadikan dirinya sebagai contoh nyata perlawanan dan feminisme agar perempuan tidak pernah mati. Kartini bahkan dalam suratnya sering kali bertanya apakah perempuan sudah menegakkan feminisme yang diperjuangkannya? Sejauh ini kebebasan dalam kesetaraan gender perspektif Kartini adalah emansipasi dalam beberapa akses untuk perempuan agar setara dengan laki-laki. Kartini memahami bahwa keutamaan yang Tuhan berikan kepada laki-laki jauh lebih unggul daripada perempuan. Oleh karena itu, dengan memberikan emansipasi dalam berbagai aspek yang ada untuk menjadikan seorang perempuan sama dengan laki-laki. Mengantisipasi laki-laki yang berlebihan dalam berekspresi merupakan simbolik kejahatan yang harus dijegal sebelum menjadi kultur. Dengan aspek yang dipenuhi, maka perempuan melebihi dari feminisme dengan matriarkat, posisi peralihan fungsi tanggung jawab laki-laki dalam ruang lingkup perempuan.
Penulis: Dodi Marhaen (Penikmat Sosial Receh)
Editor: Redaksi Setara


