
SETARA.ID, BIOGRAFI – Hassan Hanafi merupakan tokoh pemikir pembaharuan Islam kontemporer yang kerap kali mengalami dinamika intelektual dalam persoalan Islam, baik dalam konteks sosial, politik, hingga beragam tantangan modernitas dan globalisasi yang memicu berkembangnya pengetahuan keislaman.
Beliau sangat terkenal di Mesir, yang tidak muncul sebagai representasi khazanah keilmuan Islam yang konservatif, akan tetapi beliau membawa spirit paham Islam dalam segala aspek bisa menjadi solusi dalam menyikapi persoalan dan bisa saja menjadi pergolakan yang berbasis pergerakan yang konkret.
Melalui karyanya yang berjudul “Dari Akidah Ke Revolusi” (terj. Indonesia) Hassan Hanafi Hadir memberikan kritikan tajam yang didominasi pemikiran barat karena menganggap Islam secara tradisi khazanah keilmuan begitu “stagnan” dalam menyikapi persoalan yang modern. Sehingga beliau menyebut dan menawarkan program agar Islam keluar dari zona konservatif dengan “Islam Kiri” (Al-Yassar Al-Islami).
Tanpa berlama-lama, untuk mengetahui siapa Hassan Hanafi lebih kompleks, melalui biografi, pendidikan, pemikiran hingga perjuangannya, membantu bagaimana Islam tidak hanya terpaku pada metode klasik akan tetapi juga bersifat revolusioner seiring berkembangnnya zaman.
BIOGRAFI HASSAN HANAFI
Hassan Hanafi lebih akrabnya dikenal dengan sebutan Dr. Hassan Hanafi. Beliau lahir di Kairo pada 13 Februari 1935 di dekat Benteng Salahuddin, yang merupakan sebuah kota kecil yang berada di dekat perkampungan Al-Azhar. Kota yang menjadi titik tumpu keilmuan Islam dan banyaknya mahasiswa seluruh dunia yang ingin belajar mengenai dunia Islam, khususnya di Universitas Al-Azhar.
Sedari kecil, beliau kerap kali dihadapkan oleh beragam kenyataan-kenyataan hidup dalam naungan penjajahan dan dominasi dari negara asing. Beliau menyaksikan hal tersebut dan menjadi cikal bakal tumbuhnya sikap patriotik dan nasionalismenya. Jangan heran, jika di umur 13 tahun beliau mendaftarkan diri sebagai sukarelawan perang Israel pada tahun 1948. Pada saat yang sama, secara simultan beliau ditolak karena dianggap terlalu muda dan bukan golongan pejuang muslimin. Beliau kecewa karena karena Mesir kala itu mengalami konflik internal dan perpecahan.
Tahun 1951, saat beliau menduduki masa SMA, beliau menyaksikan sendiri pembantaian tentara Inggris terhadap para syuhada’ di Terusan Suez. Akhir tahun 1940-an beliau bersama teman-temannya mengabdikan diri untuk membantu pergerakan revolusi yang meledak di tahun 1952, sehingga beliau memiliki ketertarikan untuk masuk organisasi ikhawanul muslimin pada tahun 1952 hingga 1956.
Bersamaan dengan itu, beliau sekolah di Universitas Cairo untuk mendalami bidang filsafat. Karena pada saat itu, di samping Mesir mengalami periode sangat buruk, pertentangan ikhwanul muslimin dengan gerakan revolusi pada tahun 1954, beliau mask dalam kubu Muhammad Najeb yang sedang berkonflik dengan Naseer, karena beliau menganggap Najeb memiliki konsistensi terhadap visi Islam yang jelas.
Pada tahun-tahun berikutnya, Hassan Hanafi memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan di Prancis, tepatnya di Universitas Sorborne, pada tahun 1956 sampai 1966. Di Prancis beliau menekuni untuk berpikir secara metodologis melalui kuliah-kuliah, buku bacaan hingga karya orang-orang yang orientalis. Jean Gitton, yang merupakan gurunya dari kalangan orang Katolik reformis juga ikut membantu Hassan Hanafi untuk belajar cara metodologi berpikir, pembaharuan dan sejarah filsafat.
Selain Jean Gitter, beliau juga ikut belajar dengan Paul Ricouer terkait fenomonologi, analisis kesadaran dari Husserl, dan bimbingan mengenai pembaharuan ushul fikih dari Profesor Masnion.
Tahun 1969 dan 1970 beliau diundang sebagai tamu kehormatan di Prancis dan Belgia, bersamaan beliau kala itu sudah terdaftar sebagai guru di Universitas Cairo. Tahun 1971-1975 beliau mengajar di Universitas Temple di Amerika Serikat. Pertemuan beliau dengan beberapa pemikir dari kalangan dunia, tidak hanya di Asia, akan tetapi juga di negara-negara Arab dan Eropa membuat beliau menyadari persoalan besar yang dialami oleh dunia.
Tepatnya 21 Oktober 2021, beliau meninggal dunia dalam usia 86 tahun. Mohammad Othman Elkhosh seorang Presiden Universitas Cairo membuat obitarium atas meninggalnya Hassan Hanafi.
PEMIKIRAN HASSAN HANAFI
Pemikiran Hassan Hanafi sejatinya sangat sederhana, beliau hanya menekankan pada tiga aspek, yaitu skolastik, nasionalistik, dan populistik yang kemudian beliau kembangkan dalam bentuk ideologi. Akan tetapi pemikiran beliau dapat diklasifikasikan melalui tiga periode.
Periode pertama, tepatnya pada tahun 1960-an. Beliau menyebut bahwa periode itu Mesir mengalami krisis intelektual yang signifikan, khususnya dalam bidang skolastik, sehingga beliau banyak merekonstruksi pemikiran Islam. Upaya penelitian yang dibuat lebih berfokus pada metodologi dan interpretasi pembaharuan ushul fiqh. Bersamaan juga dalam memahami agama dalam konteks realitas kontemporer melalui metode fenomenologi. Dari hasil yang upayakannya, membantunya mendapatkan gelar doktor.
Periode kedua, pada tahun 1970. Beliau benyak menguak persoalan ihwal problema kontemporer yang melibatkan kekalahan Islam terhadap perang Israel. Salah satu tulisannya yang berjudul “Qadhaya Al-Mu’asyirah fi Fikrina Al-Mu’atsir” Beliau berupaya mengintegrasi keilmuan Islam dengan sosial masyarakat, beliau menyadari bahwa akademisi tidak hanya duduk diam saja, memberikan solusi terhadap kesulitan masyarakat merupakan cara terhadap membedah pemikirannya.
Periode terakhir, pada tahun 1980-an dan awal 1990-an. Dalam karyanya yang berjudul “Al-Turats wa Al-Tajdid” ini merupakan karya yang mencakup problematika kontemporer yang melatarbelakangi situasi pemerintah yang stabil dan juga tulisan ini mencakup ide dan pembaharuan dalam setiap langkahnya. Pada saat yang sama, ideologi yag beliau kemas sebagai “Islam Kiri” merupakan representasi keilmuan Islam yang mengikuti standarisasi perkembangan zaman.
WARISAN PEMBAHARUAN HASSAN HANAFI
Warisan dari Hassan Hanafi terletak pada konsepsi pembaharuan beliau dalam merekonstruksi nilai-nilai Islam yang tradsionil ke revolusioner, kritis, dan kontekstual. Melalui tulisannya “Al-Turats wa Al-Tajdid” beliau menekankan warisan intelektual Islam tidak hanya bersifat dogmatis, melainkan rekonstruktif sesuai dengan berkembangnya zaman.
Pendekatan tersebut tidak hanya melahirkan sudut pandangan yang begitu reflektif. Umat Islam tidak perlu berkiblat pada tradisi-tradisi keislaman zaman dulu. Bisa saja Islam menjadi terbelakang sebab tiadanya rekonstruksi metodologi untuk menjawab dinamika-dinamika kontemporer.
Konsep Oksidentalisme, secara bersamaan untuk mengkritisi pemikiran barat yang mendominasi. Beliau memperkenalkan Oksidentalisme ini bertujuan untuk memberikan secara tegas posisi Islam dalam tatanan dunia selalu menghasilkan beragam pengetahuan yang relevan dengan zaman.
Dalam oksidentalisme juga, beliau mendorong teologi Islam tidak hanya bersifat normatif sebagai konsumsi individualistik, melainkan berorientasi terhadap manusia (antroposentris) yang bertujuan terhadap pembebasan, keadilan sosial. Dengan demikian, warisan pembaruannya memberikan kontribusi penting dalam membangun paradigma Islam yang lebih dinamis, emansipatoris, dan responsif terhadap persoalan kontemporer.
Demikianlah sekilas biografi Hassan Hanafi sebagai tokoh pembaharuan Islam, yang pemikirannya tidak hanya menjadi pembeda terhadap persoalan kontemporer, melainkan memberikan jalan untuk memahami Islam yang begitu komprehensif yang senada dengan berkembangnya zaman.
Editor: Redaksi Setara


