
SETARA.ID, JAKARTA – Polemik program Pendidikan dan Pelatihan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) bagi calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih kembali mencuat.
Setelah lima peserta dilaporkan meninggal dunia selama mengikuti rangkaian pelatihan, kini sorotan mengarah pada besarnya anggaran latihan dasar kemiliteran (Latsarmil) yang disebut mencapai Rp30 juta per peserta.
Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, mengungkapkan bahwa berdasarkan skema pelatihan yang berlaku, total biaya pendidikan selama 45 hari diperkirakan mencapai sekitar Rp45 juta per orang.
Dari jumlah tersebut, sekitar Rp30 juta dialokasikan untuk pelaksanaan latihan dasar kemiliteran, sementara sekitar Rp15 juta digunakan untuk pembelajaran substansi koperasi dan kompetensi manajerial.
“Berdasarkan kriteria pelatihan, untuk tujuh hari menghabiskan Rp5 juta per peserta. Maka total kebutuhan anggaran selama 45 hari mencapai sekitar Rp45 juta per orang.
Dari jumlah tersebut, sekitar Rp30 juta digunakan untuk pelaksanaan latihan militer, sedangkan Rp15 juta untuk pembelajaran substansi koperasi,” kata TB Hasanuddin kepada wartawan, Senin (29/6).
TB Hasanuddin mengusulkan agar komponen Latsarmil dihapus. Menurut perhitungannya, apabila sekitar 35.476 peserta mengikuti skema pelatihan nasional, penghapusan latihan militer berpotensi menghemat anggaran negara hingga lebih dari Rp1 triliun. Dana tersebut, kata dia, dapat dialihkan untuk memperkuat pelatihan yang lebih relevan dengan pengelolaan koperasi.
Lima Peserta Meninggal Dunia
Polemik mengenai Latsarmil semakin menguat setelah lima calon manajer Kopdes dan Kampung Nelayan Merah Putih dilaporkan meninggal dunia selama pelaksanaan pendidikan SPPI di sejumlah daerah.
Berdasarkan keterangan pemerintah, penyebab kematian para peserta berbeda-beda, antara lain akibat heat stroke, tuberkulosis, dan henti jantung, sehingga tidak seluruhnya disebabkan oleh faktor yang sama.
Peristiwa tersebut mendorong berbagai pihak meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan pelatihan, termasuk standar kesehatan peserta, intensitas latihan, mekanisme pengawasan, hingga relevansi materi kemiliteran bagi calon pengelola koperasi.
Pemerintah Lakukan Evaluasi
Menyusul meninggalnya lima peserta, pemerintah mulai melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Latsarmil. Evaluasi tersebut mencakup penyempurnaan materi pelatihan agar lebih berfokus pada pembentukan karakter, bela negara, kepemimpinan, serta peningkatan kompetensi manajerial yang dibutuhkan dalam mengelola koperasi desa.
Perdebatan mengenai program ini kini tidak hanya menyangkut aspek keselamatan peserta, tetapi juga efektivitas penggunaan anggaran negara.
Sejumlah anggota DPR menilai pemerintah perlu memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan benar-benar memberikan manfaat bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia yang nantinya akan mengelola puluhan ribu Koperasi Desa Merah Putih di seluruh Indonesia.
Editor: Redaksi Setara


