Apa yang Kalian Cari Muslimah?

Admin
Ilustrasi seorang Muslimah berdiri di pinggiran pantai (Doc. Istimewa)

SETARA.ID, OPINI – Dalam kurun waktu kurang lebih 10 tahun, meluncurnya aplikasi video clipper yang bernama Tiktok, standar kehidupan seseorang berubah secara signifikan. Alih-alih untuk berpikir hidup yang sesuai norma justru menyimpan banyak hal-hal paradoksal demi keuntungan sesaat.

Bisa saja, tujuan ini tidak lagi menapaki hak bahwa unsur agama seharusnya dapat memberikan awarness untuk membuat seseorang menjadi lebih baik. Misalnya, menjadikan seseorang menjadi role model dalam memahami Islam.

Pada dasarnya, kehidupan seseorang di dunia berpatronase pada agama sebagai perjanjian bahwa dia memiliki kontrak dengan Tuhan untuk mengenal-Nya dan menjadi lebh baik. Adalah benar, bahwa semua molekul dalam memahami agama bisa saja bertawajjuh bil ulama’ (bertemu dengan ulama) atau menonton video keagamaan.

Namun, yang perlu dijadikan batasan sadar dalam belajar agama adalah role model yang seharusnya cukup membuatnya sebagai tangga untuk mengenal Tuhan, memahami ilmu-ilmu keagamaan, bukan sebaliknya yang menyembunyikan rasa kagum yang berlebihan dengan dalih “dia agamis”, “dia pintar”. Ini bukan belajar agama.

Lalu, mengapa persoalan ini selalu memperumit konstelasi Islam untuk berkembang, jika belajar Islam perlu penyanggah  cinta yang sifatnya material dengan berdalih rasa “kagum”.

Belajar Menjadi Ekspektasi yang Tinggi

Tulisan ini menuai kritikan yang reflektif tentang mengapa sumber Islam, yaitu Al-Qur’an membawa simbolitas memahami agama dengan “iqro’”. Kita mengamini bahwa iqro’ adalah bentuk peduli Tuhan untuk menyempurnakan akal sebagai pembeda.

Contohnya, dalam memahami rasa kagum seharusnya cukup jadi role model dalam menjembatani pemahaman muslimah tentang Islam, bukan sebaliknya. Apa yang terjadi saat ini tentang konstelasi perempuan itu berbanding balik dengan keinginan Islam sebagai standar utama.

Bahkan jika berandai-andai, cinta para sahabat kepada sang utusan sebagai role model tidak pernah mematikan rasa kagum dan keinginan untuk menjadi lebih baik secara beriringan. Pun dalam konteks kehidupan saat ini, maraknya pelecehan dan diskriminasi terhadap perempuan seharusnya menjadikan perempuan awarness terhadap pemberdayaan perempuan.

Pemberdayaan perempuan adalah salah satu solusi bagaimana dia memahami dirinya yang kurang, memahami agamanya, memahami kualitasnya, bukan berdalih pada role model yang dipicu oleh kekaguman yang ekstrem (halusinasi) dan seolah-olah dunia tidak memihak kepadanya.

Bisa saja, bahwa martabat perempuan yang seharusnya tinggi justru bukan karena faktor yang diam menjadi pemicu. Barangkali dari perempuannya sendiri yang terlalu bertaklid buta dan muskil dinasehati.

Immanuel Kant memberikan pernyataan manusia cenderung tidak melihat sisi realitasnya dan menangkap sisi dari inderawinya melalui dari konsumsi struktur pikirannya (halusinasi). Misalnya, fomo pada “Kadam Sidik” seolah-olah dia adalah role model menjadi suami. Ini adalah kesesatan yang kelewatan yang dialami para muslimah.

Hukum sudah memihak, struktur sosial sudah memihak, agama sudah meninggikan kaum perempuan agar setara, lalu mengapa dengan halusinasi itu justru semakin melemahkan mental kaum perempuan dalam menjadi baik dan beralih fungsi menjadi penikmat yang sifatnya material sesaat?

Maka belajarlah para hawa agar Islam kembali pada tonggaknya sebagai fondasi para generasi muda.

Penulis: Dodi Adrian Febriansyah (Penikmat Sosial)

Editor: Redaksi Setara

Share It:

Tags :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Pupolar

Artikel Terbaru

Find Us on Youtube

SETARA.id

Menjadi media rujukan yang kredibel dalam membangun ruang publik yang setara, rasional, dan berkeadilan melalui jurnalisme yang berintegritas dan berbasis kepentingan publik.

Copyright © 2026 All Right Reserved Setara.id