
OPINI — UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sedang sibuk membangun citra sebagai kampus besar. disaat mahasiswanya berkutat dengan persoalan yang paling mendasar yakni UKT mahal dan fasilitas yang jauh dari kata layak.
Ruang kelas kurang. Toilet jorok dan kotor. Mukena dan sajadah bau “sikil”, Akses air minum terbatas. Lift sering mati. Sekedar ruang kuliah pun tidak beres-beres. Mahasiswa setiap hari harus berebut ruang, sementara solusi yang muncul justru berupa penggabungan kelas dan perkuliahan daring.
Mundur Alon-alon atau Dipaksa Mundur?
Masalah UKT tidak berhenti pada mahasiswa aktif. Mahasiswa tingkat akhir yang sudah tidak memiliki mata kuliah pun masih dibebankan UKT. Mereka tidak lagi duduk di ruang kelas, tidak lagi sholat di masjid SC, Tidak lagi mengunakan toilet kampus, tetapi tagihan terus berjalan.
Bagi mahasiswa yang masih aktif, persoalannya tidak kalah pelik. Ada yang merasa nominal UKT tidak sesuai dengan kemampuan ekonomi keluarga. Banding diajukan, tetapi tidak kunjung diturunkan.
Yang lebih menyakitkan, persoalan UKT bahkan membuat mahasiswa baru yang sudah dinyatakan diterima memilih mundur. Setidaknya 17 mahasiswa baru jurusan KPI memilih mengundurkan diri.
Salah seorang calon mahasiswa mengaku mendapatkan UKT golongan 5 sebesar Rp5 juta. Ia telah mengajukan banding karena kondisi ekonomi keluarga, tetapi ditolak. Akhirnya, kesempatan kuliah di UIN Jakarta harus dilepaskan.
“Alasan utama saya mengundurkan diri yaitu karena keterbatasan ekonomi. UKT yang diberikan pihak kampus tidak sesuai dengan keadaan ekonomi saya. Saya mendapat golongan 5 dengan UKT Rp5 juta. Saya sudah coba untuk mengajukan banding, tetapi ditolak,” ujarnya.
Ditengah permasalahan UKT dan Fasilitas yang kurang, Jumlah mahasiswa baru FDIKOM disebut meningkat dari sekitar 1.200 orang pada 2025 menjadi 1.317 orang pada 2026.
Pertumbuhan mahasiswa seharusnya diikuti pertumbuhan fasilitas. Akan Tetapi sampai saat ini ruang kelas masih terbatas dan mahasiswa harus berebut tempat belajar. Jangan menjadikan mahasiswa sebagai angka, sementara ruang belajar dan fasilitasnya tertinggal.
PTKN-BH: Ambisi Aneh Si-Paling Rektor
Di tengah semua itu, UIN Jakarta tetap “ngotot” membawa agenda besar menuju Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri Berbadan Hukum (PTKN-BH).
Silakan kampus bermimpi menjadi PTKN-BH. Silakan mengejar kemandirian dan status kelembagaan yang lebih tinggi.
Tetapi jangan lupa, kampus bukan hanya gedung, status, dan ambisi rektor. KAMPUS ADALAH MAHASISWA.
Sebelum sibuk mengejar status PTKN-BH, masih ada pekerjaan rumah yang lebih penting, yakni, memastikan mahasiswa mampu dan tidak memberatkan saat membayar uang kuliah, mendapatkan dosen yang layak, dan mendapatkan fasilitas yang layak.
Percuma bicara transformasi jika mahasiswa masih pusing memikirkan UKT. Percuma bicara kampus kelas dunia jika ruang kelas saja masih diperebutkan.
Penulis: Zidan Syakir (Wakil Ketua Umum HMPS KPI UIN Jakarta)
Editor: Muzakki

