Gema dari Sudut Rumah: Suara Perempuan yang Tak Pernah Dihitung

Admin
Foto: Zhaskia Nabil Apsari – Mahasiswa Hukum Tata Negara UIN Jakarta.

Chaz Bono mengatakan “Pemahaman tentang dunia tidak pernah benar-benar netral; ia selalu lahir dari tempat kita pertama kali belajar melihat.” Berangkat dari gagasan itu, dunia yang kutangkap tidak lahir dari teks akademis yang kaku, melainkan dari ruang paling awal yang aku kenal yaitu rumah serta sosok ibuku di dalamnya. Sejak kecil aku belajar membaca realitas bukan dari definisi, tetapi dari keseharian tentang bagaimana seorang perempuan menjalani peran yang sering kali tidak sepenuhnya ia pilih. Dalam banyak keadaan perempuan memikul tanggung jawab yang tidak selalu dibagi secara adil, seolah hidup menetapkan peran tanpa memberi ruang untuk menolak.


Dari pengalaman tersebut terbentuk cara pandang yang sederhana, “begitulah perempuan.” bagiku. Sosok yang kuat, bertahan dalam diam, tetap berjalan meski tidak selalu diberi ruang untuk berhenti. Namun seiring waktu aku menyadari bahwa kekuatan itu sering lahir bukan dari kebebasan memilih, melainkan sebuah bentuk daya hidup yang lahir dari keterbatasan pilihan, sebuah energi yang tidak selalu tampak sebagai perlawanan, tetapi hadir dalam cara ia terus melanjutkan hidup. Dalam banyak situasi, perempuan tidak sedang memilih untuk diam, melainkan bentuk bertahan di tengah struktur yang tidak selalu memberi ruang untuk didengar dan agar tetap berdiri ketika keadaan tidak sepenuhnya berpihak.


Seiring aku tumbuh dan mulai melihat dunia dengan cakupan yang lebih luas, pola yang
awalnya tampak di rumah ternyata berulang dalam ruang sosial yang lebih besar. Perempuan hadir di berbagai sektor penting seperti keluarga, pendidikan, hingga dunia kerja, tetapi tidak selalu ditempatkan sebagai pusat. Di Indonesia BPS 2024 mencatat Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja perempuan berada di kisaran 54–56% sementara laki-laki masih di atas 80%. Di balik angka tersebut terdapat realitas yang tidak selalu terlihat berupa beban ganda, akses yang belum setara, serta ekspektasi sosial yang masih membingkai peran perempuan di ruang domestik.


Bahkan ketika perempuan masuk ke ruang formal, ketimpangan itu tetap tampak. Keterwakilan perempuan di parlemen Indonesia masih berada di kisaran 20–21% yang menunjukkan bahwa suara perempuan belum menjadi arus utama dalam pengambilan keputusan. Kehadiran mereka ada, tetapi belum cukup untuk memengaruhi arah percakapan yang menentukan kebijakan publik.


Di titik ini tampak sebuah paradoks yang jelas yaitu perempuan berada di hampir semua ruang kehidupan, tetapi tidak selalu berada di pusat keputusan yang membentuk kehidupan itu sendiri. Mereka menjaga sistem tetap berjalan, namun jarang ditempatkan sebagai penentu arah. Padahal kedekatan perempuan dengan kehidupan sehari-hari menghadirkan perspektif yang berbeda. Mereka membaca dampak secara langsung, merasakan konsekuensi sebelum menjadi data, serta memahami ketidakadilan sebagai pengalaman yang berulang.


Dari situ aku memahami bahwa mengangkat suara perempuan bukan sekadar soal memberi
tempat, tetapi soal memperluas cara dunia melihat dirinya sendiri. Banyak keputusan lahir tanpa melibatkan mereka yang paling terdampak olehnya, seolah pengalaman tidak selalu diakui sebagai bentuk pengetahuan. Dan ketika suara yang lama berada di pinggir bergerak pada titik pusat, yang berubah bukan hanya representasi, tetapi juga cara kita memahami kebenaran dan kepentingan bersama.


Pengalaman pribadiku dengan sosok ibu akhirnya bermuara pada satu kesadaran bahwa perempuan tidak semestinya hanya diposisikan sebagai yang bertahan dalam sistem, tetapi juga sebagai yang ikut membentuknya. Dari ibuku aku belajar bahwa perempuan adalah bagian yang diam-diam menopang dunia agar tetap berdiri. Dan mungkin di situlah letak yang paling sering kita abaikan, bahwa yang kita sebut dunia yang berjalan sebenarnya berdiri di atas kerja yang tidak pernah kita sebut sebagai kerja. Ketika perempuan diberi ruang untuk bersuara, yang berubah bukan hanya arah hidupnya, tetapi cara kita memahami satu hal paling mendasar bahwa tanpa mereka dunia tidak pernah benar-benar berdiri, hanya terlihat seolah-olah iya.

Penulis: Zhaskia Nabil Apsari – Mahasiswa UIN Jakarta

Editor: Muzakki

Share It:

Tags :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Pupolar

Artikel Terbaru

Find Us on Youtube

SETARA.id

Menjadi media rujukan yang kredibel dalam membangun ruang publik yang setara, rasional, dan berkeadilan melalui jurnalisme yang berintegritas dan berbasis kepentingan publik.

Copyright © 2026 All Right Reserved Setara.id