
SETARA.ID, INTERNASIONAL – Iran dikabarkan telah mengusulkan proposal perundingan yang baru mengenai perdamaian menyusul usaha Pakistan sebagai mediator dalam mencari solusi agar dua putaran perundingan dapat mengakhiri perang dengan Amerika Serikat (AS) secara berlangsung.
Presiden AS Donald Trump dilaporkan tidak senang melihat isi proposal baru Iran tersebut. Hal ini dapat memicu tawar-menawar akan kembali panjang, dan perang akan terus berlanjut dan memasuki bulan ketiga.
Dalam proposal itu, Iran dilaporkan tidak mencantumkan tuntutan yang diajukan oleh Amerika Serikat, yaitu pemberhentian program nuklirnya.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dikabarkan membahas dengan beberapa pihak regional mengenai proposal yang berupaya membuka kembali Selat Hormuz dan menunda pembahasan pemberhentian program nuklir dengan AS di pertemuan berikutnya.
Langkah ini dilakukan oleh Araghchi dalam pertemuannya ke tiga negara (Pakistan, Oman, Rusia) dalam 72 jam, yang tampaknya bertujuan untuk menggalang apresiasi yang luas terhadap proposal Teheran tersebut.
Pada Senin, Araghchi bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, di St. Petersburg, setelah dua kali mengunjungi Islamabad dalam dua hari berturut-turut. Selama kedatangan dua kali itu, ia juga bertemu di Muscat, Oman.
Sumber yang terlibat dalam upaya diplomatik ini memberi tahu Al Jazeera bahwa pejabat intelijen senior dari beberapa negara ikut serta dalam pembicaraan di Muscat.
Diskusi di Muscat membicarakan Selat Hormuz, jaminan keamanan di wilayah tersebut, dan kerangka solusi yang mungkin untuk masalah yang ada. Sementara itu, isu nuklir dibicarakan lebih lanjut dalam tahap perundingan berikutnya.
Proposal dari Iran telah diberikan kepada Pakistan, yang sekarang bertindak sebagai mediator antara Teheran dan Washington setelah pertemuan pembicaraan pertama pada 11 April di Islamabad tidak mencapai kesepakatan.
Di balik langkah Araghchi, para ahli melihat bahwa Iran belajar dari kegagalan kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dan beberapa negara, termasuk AS, atau yang dikenal sebagai JCPOA.
Kesepakatan tersebut berhasil membuat Iran bersedia mematuhi aturan terkait pengayaan uranium yang sebelumnya dipertanyakan karena diduga digunakan untuk pengembangan senjata nuklir. Sebagai balasannya, AS dan sekutu mengangkat berbagai sanksi yang sebelumnya diterapkan kepada Iran.
Namun, ketika Trump mengeluarkan AS dari perjanjian tersebut pada 2018, Iran menjadi sendirian tanpa dukungan dari wilayah sekitarnya dan tanpa pihak yang bisa memaksa Washington mengikuti komitmen yang telah dijanjikan.
“Negara-negara Eropa yang ikut merundingkan JCPOA juga tidak bisa diandalkan saat krisis,” kata Khan.
Ia menganggap langkah Araghchi sebagai upaya Iran untuk memperkuat perlindungan politik, menenangkan tetangga, serta membentuk basis yang lebih luas dalam menghadapi peningkatan ketegangan.
Mantan duta besar Pakistan Jauhar Saleem menganggap Iran sedang melakukan strategi jangka panjang.
“Idealnya Iran tidak ingin kesepakatan yang rentan terhadap siklus pemilu AS,” katanya.
Kepada wartawan saat berada di Rusia pada Senin (27/4), Araghchi mengatakan bahwa Trump berupaya agar negosiasi berjalan baik karena Amerika Serikat belum berhasil mencapai tujuan apa pun dalam perangnya terhadap Iran.
Sementara itu, Gedung Putih belum mengatakan secara pasti apa isi proposal yang diajukan oleh Iran tersebut.
Jubir Olivia Wales menegaskan bahwa AS “tidak akan bernegosiasi melalui media” dan hanya akan menerima “kesepakatan yang mengutamakan rakyat Amerika serta tidak pernah membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.”
Namun, pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa Trump tidak menyukai isi rencana Iran tersebut karena salah satu isu penting bagi AS, yaitu program nuklir Iran, tidak disebutkan.
Belum tahu dengan pasti apakah Presiden Donald Trump akan mengizinkan usulan Iran untuk menunda pembicaraan mengenai nuklir. Dalam wawancara dengan Fox News pada hari Minggu, Trump menyatakan bahwa Iran sudah tahu persyaratan yang harus dipenuhi.
“Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir. Kalau tidak, tak ada alasan untuk bertemu,” ujar Trump, sambil menambahkan bahwa Teheran dipersilakan menghubungi Washington.
Editor: Redaksi Setara


