
SETARA.ID, CIPUTAT – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Jakarta menggelar diskusi politik dan kebebasan akademik. acara ini dilaksanakan secara hybrid, yaitu luring yang bertempat di auditorium Prof. Bahctiar Efendy Fisip UIN Jakarta, dan secara daring melalui zoom meeting serta siaran langsung di YouTube SMRC TV. (Kamis 23/4/2026).
Acara ini dihadiri oleh tokoh-tokoh publik di antaranya Saiful Mujani selaku pembicara pada diskusi tersebut, burhanudin muhtadi yang bertugas sebagai moderator. Selain itu, datang juga secara langsung Rocky Gerung, Bivitri Susanti, Todung Mulya Lubis, Yuniyanti Chuzaifah, Danang Widiyoko. dan Asfinawati, Amalinda Safirani bergabung melalui zoom meeting.
Kegiatan ini diisi dengan diskusi politik yang disampaikan oleh Saiful Mujani selaku pembicara. kemudian dilanjutkan dengan tanggapan oleh para tokoh yang hadir pada acara ini, baik secara langsung ataupun daring.
Salah satu yang menanggapi adalah Bivitri Susanti, beliau merupakan dosen STH Jentera sekaligus ahli Hukum Tata Negara. Dalam orasinya Bivitri menyampaikan bahwa apa yang dilakukan oleh Saiful Mujani tidak masuk ke dalam tindakan makar.
“Makar itu merupakan pasal yang diadaptasi dari bahasa Belanda, yang konsep awalnya adalah Aanslag. Yang artinya membutuhkan serangan konkret atau serangan fisik, seperti menembak, dll. Tapi kalo kata-kata belum masuk ke situ.” tegasnya.
Selain itu ia juga merespon pertanyaan Saiful Mujani soal perbuatan pemerintah yang melanggar konstitusional, dengan lantang dia menjawab bahwa pemerintah sering kali melanggar konstitusi.
“saya mau bilang juga kalo tadi ada pertanyaan dari Mas Saiful Mujani soal ada ngasih pelanggaran konstitusional yang dilakukan oleh pemerintah sekarang ? Jelas ada. Bagaimana cara menjelaskannya ketika Menteri, Preman, ASN yang menghadap Seskab. Bagaimana cara menjelaskannya Ketika ada undang-undang yang diubah belakangan hanya untuk menjustifikasi perilaku yang salah secara konstitusional dilakukan. RIP Hukum Tata Negara. Sistem kita diacak-acak oleh pemerintahan Prabowo.” Ujarnya.
Editor: Redaksi Setara


