Heboh! Yasinta Moiwend Diperalat Dalam Produksi Film Pesta Babi

Dodi Febriansyah
Foto: Istimewa

SETARA.ID, JAKARTA – Tokoh masyarakat adat Papua, Yasinta Moiwend menyatakan bahwa dirinya dijebak dan dieksploitasi sebagai pemeran dalam film Pesta Babi tanpa seizin darinya.

Representasi dari masyarakat adat Malind Merauke, Papua Selatan secara resmi tidak pernah ditawari secara langsung untuk ikut serta dalam peran film Pesta Babi, sehingga masyarakat adat setempat meminta untuk film Pesta Babi diberhentikan untuk tayang.

“Saya kaget, ditampilkan saya di Film. Apa saya boneka atau ukiran Asmat, ditampilkan tanpa sepengetahuan saya dan izin saya. Saya kecewa sekali,” kata Yasinta, dilansir dari video pernyataannya, Minggu (25/5/2026).

“Saya tidak wawancara, mereka yang buat, mama tidak tau. Mama tidak kasih izin, untuk buat film itu, saya sumpah demi tuhan, tidak tau jam berapa mereka buat film Pesta Babi itu,” lanjutnya.

Yasinta bercerita, bahwa awalnya ia bersama sejumlah masyarakat adat Marind didatangi seseorang yang bernama Aris mengenai isu penolakan terhadap pembukaan lahan di Papua oleh pemerintah.

Namun tanpa disadarinya, Yasinta merasa dijebak dan dimanfaatkan untuk menjadi pemeran dalam film Pesta Babi.

Yasinta mempertanyakan adanya foto-foto dirinya yang beredar, bahkan fotonya yang dijadikan simbol poster film Pesta Babi tanpa ada pemberitahuan ataupun seizin dirinya secara langsung.

“Saya tidak wawancara, mereka yang buat, mama tidak tau. Mama tidak kasih izin, untuk buat film itu, saya sumpah demi tuhan, tidak tau jam berapa mereka buat film Pesta Babi itu,” lanjutnya.

Yasinta secara sadar merasa bahwa ia dimanfaatkan karena tidak memperoleh apa-apa dari produksi film tersebut, yang hingga saat ini tidak pernah diperbincangkan lagi mengenai film itu kepadanya.

Bahkan ia juga mengaku sudah terbiasa ikut penerbangan pulang pergi Merauke-Jakarta hingga Merauke-Makassar, bahkan dirinya tidak tahu tujuannya diajak ke Jakarta.

“Saya diajak ke Jakarta 6 kali. Diatas pesawat saya panik, ini mau apa. Sampai Jakarta, mereka ajak saya demo kamisan, minta saya bersuara menolak PSN (Proyek Strategis Nasional). Karena terpengaruh, saya ikut saja namun sekarang, saya sadar, saya tidak mau ikut tolak PSN lagi,” jelas Yasinta.

Sekalipun pernah ikut enam kali penerbangan pulag pergi Merauke-Jakarta dan tiga kali Merauke-Makassar, Yasinta merasa tidak pernah diberikan bantuan ataupun uang, dan tidak tahu bahwa rangka kepergiannya untuk produksi film Pesta Babi.

Yasinta merasa telepon seluler dirinya telah rusak dan berharap kepada orang yang mengajaknya bepergian untuk dibelikannya, hingga saat ini tidak pernah diterimanya, apalagi bantuan rumah.

“Yang saya dapat cuma capeknya saja. Mereka fasilitasi, jadi kalau mereka fasilitas terus uang duduknya cuma Rp2 juta, Rp1,5 juta itu saja yang kami dapat dari mereka, LBH pusaka,” ungkapnya.

“Saya dijebak, dimanfaatkan oleh mereka. Jadi saya minta Film Pesta Babi untuk dihentikan. Tidak ada izin dan sepengetahuan saya. Harus di hentikan film itu,” pungkas Yasinta.

Editor: Redaksi Setara

Share It:

Tags :

Dodi Febriansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Pupolar

Artikel Terbaru

Find Us on Youtube

SETARA.id

Menjadi media rujukan yang kredibel dalam membangun ruang publik yang setara, rasional, dan berkeadilan melalui jurnalisme yang berintegritas dan berbasis kepentingan publik.

Copyright © 2026 All Right Reserved Setara.id