FORMADE Gelar “Bali Bercerita” di Jakarta, Bongkar Sisi Lain Pulau Bali

Dodi Febriansyah
Forum Mahasiswa Dewata Gelar diskusi publik bertajuk “Bali Bercerita: Menguak Lembaran Lama dalam Sejarah Bali”. 15/5.2026 (Foto: setaramedia.id)

SETARA.ID, JAKARTA – Forum Mahasiswa Dewata(FORMADE) menggelar diskusi publik bertajuk “Bali Bercerita: Menguak Lembaran Lama dalam Sejarah Bali” di Gerak Gerik Cafe, Jakarta. Jumat 15/5/2026.

Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang berbeda untuk membahas Bali dari sisi budaya, agama, hingga politik dan ekonomi daerah. Tiga narasumber yang hadir yakni sastrawan Putu Fajar Arcana, akademisi agama Made Saihu, serta dosen ilmu politik Teddy Chrisprimanata Putra.

Diskusi yang dihadiri mahasiswa dan masyarakat umum itu membahas berbagai isu mengenai Bali yang dinilai jarang dibicarakan secara terbuka, mulai dari toleransi antarumat beragama, perubahan budaya akibat pariwisata, hingga ketergantungan ekonomi Bali terhadap pihak luar.

Dalam pemaparannya, Made Saihu menyoroti hubungan antara nilai-nilai Hindu dan Islam dalam kehidupan masyarakat Bali. Ia menilai filosofi Tat Twam Asi menjadi salah satu fondasi yang membuat masyarakat Bali mampu hidup berdampingan di tengah keberagaman.

“Tat Twam Asi mengajarkan bahwa penderitaan orang lain adalah penderitaanku juga, dan kebahagiaan orang lain adalah kebahagiaanku juga,” ujarnya.

Menurutnya, nilai-nilai toleransi tersebut perlu terus dijaga di tengah meningkatnya polarisasi sosial dan berkembangnya narasi identitas di media sosial.

Sementara itu, Putu Fajar Arcana membahas perubahan budaya Bali, khususnya pada Tari Kecak yang kini identik dengan industri pariwisata. Ia menjelaskan bahwa pertunjukan Kecak modern mengalami perkembangan dari bentuk sakralnya di masa lalu.

“Tari Kecak sebenarnya sakral dalam agama Hindu, tetapi yang dipertontonkan sekarang sudah tidak sama persis dengan budaya tari pada zaman dahulu,” kata Putu.

Ia juga mengingatkan pentingnya generasi muda memahami akar budaya Bali agar tradisi tidak kehilangan nilai dan makna akibat komersialisasi.

Di sisi lain, Teddy Chrisprimanata Putra menyoroti persoalan politik dan ekonomi Bali. Menurutnya, di balik citra harmonis yang selama ini melekat pada Bali, terdapat berbagai persoalan struktural yang perlu mendapat perhatian.

“Bali itu daerah yang tidak bisa berdiri sendiri, karena investasi, logistik, ekonomi, dan lainnya masih membutuhkan bantuan dari luar Bali,” ujarnya.

Teddy juga menyinggung persoalan konflik tanah adat, tekanan investasi besar, hingga perubahan orientasi generasi muda Bali yang mulai meninggalkan sektor pertanian dan kerajinan tradisional.

Melalui kegiatan ini, FORMADE berharap mahasiswa Bali yang merantau tetap memiliki kepedulian terhadap perkembangan sosial dan budaya di daerah asalnya.

Sebagai informasi, FORMADE merupakan organisasi mahasiswa asal Bali yang menempuh pendidikan di Jakarta dan sekitarnya. Organisasi ini aktif menggelar kegiatan budaya, diskusi publik, pengembangan kapasitas mahasiswa bali, dan Rekomendasi kebijakan kepada pemerintah bali.

Editor: Redaksi Setara

Share It:

Tags :

Dodi Febriansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Pupolar

Artikel Terbaru

Find Us on Youtube

SETARA.id

Menjadi media rujukan yang kredibel dalam membangun ruang publik yang setara, rasional, dan berkeadilan melalui jurnalisme yang berintegritas dan berbasis kepentingan publik.

Copyright © 2026 All Right Reserved Setara.id