
SETARA.ID, TANGERANG SELATAN — Memperingati Hari Tani Nasional 2026, Pengurus Pusat Poros Muda Nusantara (PMN) menggelar Diskusi Publik bertajuk “Agraria untuk Kesejahteraan Rakyat: Refleksi Hari Tani Nasional 2026” di Skoee Coffe, Tangerang Selatan, pada Minggu (20/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang dialog untuk merefleksikan berbagai persoalan agraria di Indonesia sekaligus membahas keterkaitannya dengan kesejahteraan petani, kedaulatan pangan, keberlanjutan lingkungan, serta arah pembangunan pertanian di masa mendatang.
Bagi Poros Muda Nusantara, peringatan Hari Tani Nasional tidak seharusnya berhenti pada kegiatan seremonial maupun ucapan di media sosial. Momentum tersebut perlu menjadi ruang refleksi mengenai sejauh mana kebijakan agraria dan pembangunan pertanian.
Persoalan agraria sendiri memiliki cakupan yang luas. Selain menyangkut penguasaan dan kepemilikan tanah, isu agraria berkaitan dengan akses petani terhadap lahan, keberlanjutan usaha pertanian, perlindungan terhadap petani, penguatan ekonomi desa, hingga keberlanjutan lingkungan.
Koordinator Pusat Poros Muda Nusantara sekaligus narasumber dalam kegiatan tersebut, Hendry Hermawan, menyampaikan bahwa Hari Tani Nasional harus menjadi momentum untuk kembali menempatkan petani sebagai bagian utama dalam pembahasan pembangunan nasional.
“Hari Tani Nasional bukan hanya momentum untuk memberikan ucapan selamat kepada para petani, tetapi juga kesempatan bagi kita untuk memberikan apresiasi sekaligus melakukan refleksi terhadap berbagai persoalan yang mereka hadapi.” ujar Hendry.
Menurut Hendry, pembahasan mengenai agraria tidak cukup hanya dilihat dari aspek tanah dan kepemilikan. Kebijakan agraria harus memiliki orientasi yang jelas terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani dan masyarakat pedesaan.
“Kita harus melihat agraria sebagai bagian dari persoalan kesejahteraan rakyat. Ketika akses terhadap tanah, produksi pangan, lingkungan, dan ekonomi desa saling berkaitan, maka kebijakan agraria juga harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara menyeluruh.” jelasnya.
Ia menambahkan, upaya mewujudkan kedaulatan pangan tidak dapat hanya diukur dari seberapa besar produksi pertanian yang dihasilkan. Kondisi sosial dan ekonomi petani sebagai produsen pangan juga harus menjadi perhatian.
“Tidak cukup bagi kita berbicara tentang kedaulatan pangan jika kesejahteraan petaninya masih menjadi persoalan. Petani harus diposisikan sebagai subjek pembangunan. Karena itu, peningkatan produktivitas harus disertai dengan perlindungan petani, penguatan akses terhadap lahan, kepastian pasar, peningkatan nilai ekonomi hasil pertanian,” tambah Hendry.
Menurutnya, pemahaman terhadap sejarah Hari Tani Nasional juga penting agar masyarakat, khususnya generasi muda, dapat memahami bahwa persoalan agraria merupakan bagian dari perjalanan panjang bangsa dalam memperjuangkan keadilan sosial.
Dalam momentum Hari Tani Nasional 2026 ini, Poros Muda Nusantara juga menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh petani Indonesia sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi mereka dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
“Selamat Hari Tani Nasional 2026. Terima kasih kepada seluruh petani Indonesia yang terus menjaga pangan negeri. Semoga momentum ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus memperjuangkan pertanian yang berkeadilan, berkelanjutan, dan mampu memberikan kehidupan yang layak bagi para petani.”
PMN berpandangan bahwa masa depan pertanian Indonesia membutuhkan kebijakan yang mampu mempertemukan agenda reforma agraria, kedaulatan pangan, perlindungan lingkungan, penguatan ekonomi desa, dan peningkatan kesejahteraan petani.
Melalui diskusi publik ini, Poros Muda Nusantara berharap semakin banyak masyarakat dan generasi muda yang memahami pentingnya persoalan agraria serta ikut terlibat dalam mengawal kebijakan yang berkaitan dengan tanah, pertanian, pangan, dan lingkungan.
Editor: Redaksi Setara


