
SETARA.ID, OPINI – Ada sesuatu yang mengganjal ketika saya menonton ulang Game of Thrones musim keenam tepatnya adegan ledakan Sept of Baelor. Cersei berdiri di menara, memegang anggur, memandangi kota yang terbakar. Tidak ada penyesalan di wajahnya. Hanya ketenangan yang terasa lebih mengerikan dari api itu sendiri. Dan entah kenapa, yang terlintas di benak saya bukan tokoh fiksi lain melainkan Joseph Stalin.
Mungkin terdengar berlebihan. Satu tokoh adalah ratu fiksi di dunia fantasi, yang lain adalah diktator nyata yang bertanggung jawab atas jutaan kematian. Tapi kalau kita mau jujur pada diri sendiri, pola yang mereka jalankan (cara mereka berpikir tentang kekuasaan, tentang musuh, tentang loyalitas) itu hampir identik.
Kekuasaan Bukan Tujuan, Melainkan Satu-satunya Cara Bertahan
Titik pertama yang perlu dipahami: baik Stalin maupun Cersei tidak menikmati kekuasaan dengan cara yang naif. Mereka tidak mengejarnya karena haus prestise. Mereka mengejarnya karena mereka tidak percaya hidup mereka aman tanpa itu.
Stalin tumbuh dalam dunia Bolshevik yang brutal, di mana satu kesalahan kalkulasi bisa berarti eksekusi. Setelah Lenin meninggal, ia tidak hanya bersaing untuk posisi, ia bermain di papan catur di mana setiap bidak yang tersisa adalah ancaman potensial. Trotskyis disingkirkan. Kemudian para mantan sekutunya sendiri. Dalam Great Purge 1936–1938, ia tidak hanya membersihkan musuh politik, ia mengeksekusi para jenderal terbaiknya sendiri. Marshal Mikhail Tukhachevsky, arsitek militer Soviet yang paling brilian saat itu, ditembak mati. Bukan karena ia berniat mengkhianati Stalin. Tapi karena Stalin tidak bisa menanggung kemungkinan itu.
“Death solves all problems — no man, no problem.” Joseph Stalin
Cersei bekerja dengan logika yang persis sama. Di Season 1, ketika Ned Stark menemukan rahasia kelahiran Joffrey, respons Cersei bukan panik, melainkan manuver yang dingin dan sistematis. Di Season 4, ia memanipulasi proses peradilan Tyrion bukan karena ia yakin adiknya bersalah atas kematian Joffrey, tapi karena Tyrion adalah variabel yang tidak bisa ia kendalikan. Ancaman yang belum terwujud tetaplah ancaman.
Pembersihan sebagai Instrumen Politik
Yang membuat keduanya benar-benar paralel bukan hanya soal siapa yang mereka singkirkan tapi bagaimana dan kapan mereka melakukannya. Stalin tidak melancarkan Great Purge di saat ia lemah. Ia melakukannya justru di puncak kekuasaannya, ketika ancaman nyata dari luar hampir tidak ada. Ini bukan defensif ini ofensif. Seolah kekuasaan yang tidak diuji lewat darah bukan kekuasaan yang sah. Cersei melakukan hal yang sama di Season 6, Episode 10. Ledakan Sept of Baelor bukan reaksi panik terhadap ancaman mendesak itu adalah konsolidasi. Sekaligus. Satu langkah yang menghapus High Sparrow, para bangsawan House Tyrell, dan semua figur yang selama ini membatasi geraknya. Hasilnya: ia duduk di Iron Throne. Harganya: anaknya sendiri, Tommen, memilih terjun dari jendela.
“When you play the game of thrones, you win or you die. There is no middle ground.” Cersei Lannister, Season 1 Episode 7
Stalin mungkin tidak pernah mengucapkan kalimat itu. Tapi seluruh hidupnya adalah demonstrasi dari filosofi tersebut.
Warisan yang Memakan Dirinya Sendiri
Ada ironi gelap yang mengikat keduanya di akhir. Great Purge yang dijalankan Stalin yang seharusnya mempertebal pertahanan Soviet justru menghancurkan korps perwira militernya menjelang invasi Nazi. Ketika Jerman menyerang pada 1941, Tentara Merah lumpuh karena kehilangan para komandannya. Stalin membayar harga dari paranoia yang ia tabur sendiri.
Cersei kehilangan semua anaknya. Satu per satu. Nubuatan sang penyihir di masa kecilnya terbukti bukan karena takdir melainkan karena setiap keputusan yang ia buat untuk mempertahankan takhta justru mencabut satu per satu alasan ia menginginkan takhta itu sejak awal.
Itulah mungkin persamaan paling dalam antara keduanya. Bukan hanya cara mereka berkuasa tapi bagaimana kekuasaan itu akhirnya memakan mereka dari dalam. Mereka tidak kalah karena musuh yang lebih kuat. Mereka kalah karena logika yang mereka pilih sendiri, yang tidak pernah memberi ruang untuk sesuatu yang lebih besar dari rasa takut.
Penulis: Ahmad Farhan Saukani (Sekretaris BSO Kajian dan Aksi Strategis DEMA UIN Jakarta)
Editor: Dodi Adrian Febriansyah


