Matinya Nalar Di Bawah Bayang-Bayang Pabrik: “Dosa Turunan” Pendidikan Di Banten

Redaksi Setara

Penulis

Anas Maulana Hasanudin, Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta.(Foto: setaramedia.id)

SETARA.ID, OPINI – Rabu, 6 Mei 2026. Di Gedung Negara, Serang, sebuah narasi besar dilemparkan ke publik. Gubernur Banten, Andra Soni, dalam perbincangannya bersama Putri Indonesia, mengungkapkan rencana untuk menghapus jurusan SMK yang dianggap “jenuh serapan” seperti Akuntansi dan Manajemen.

Kemudian Langkah ini diamini oleh Kepala Dindikbud Banten, Jamaludin menilai hal tersebut sebagai bentuk evaluasi atas ketidakseimbangan lapangan kerja. Laporan Kompas.com, menguak tujuan yang tampak pragmatis, yakni agar lulusan tak lagi menumpuk di daftar pengangguran.

Namun bagi Saya, ada aroma “dosa turunan” yang sedang dipaksakan di sini.

Hilirisasi Manusia: Dari Kampus hingga SMK, Isu di Banten ini bukan fenomena tunggal. Ia adalah ‘anak buyut’ dari kebijakan pusat yang lebih dulu sibuk “bersih-bersih” program studi (prodi) di tingkat kampus. Kita sedang menyaksikan sebuah proses hilirisasi manusia, di mana lembaga pendidikan direduksi fungsinya menjadi sekadar vendor suku cadang. Sekolah bukan lagi tempat menyemai akal dan moral, melainkan gudang suplai yang isinya harus selalu tunduk pada fluktuasi pasar industri.

Komisi X DPR RI melontarkan Kritik Keras soal isu ini. Menurut mereka, logika ini harus dibalik. Kita jangan terburu-buru menghakimi sekolah atau prodi ketika lulusannya menganggur. Seharusnya, negaralah yang lebih dulu menjelaskan “kenapa pembukaan lapangan kerja dan penempatan profesi di negeri ini tidak pernah direncanakan dengan matang?”

Menghapus jurusan itu ibarat mengamputasi kaki hanya karena sepatu yang tersedia di toko nggak ada yang muat. Kakinya sehat, pemiliknya punya keinginan melangkah, tapi karena industri gagal memproduksi ukuran yang pas, kakinya yang dianggap bermasalah dan harus dibuang. Kita nggak sedang menyembuhkan penyakit, kita sedang menciptakan disabilitas baru secara sengaja.

Pendidikan Bukan ‘Mesin Pabrik’. Masalahnya sederhana, Jika bus tidak kunjung datang, apakah haltenya yang harus dihancurkan? Tentu tidak. Sekolah dan jurusannya adalah halte (persiapan), sedangkan lapangan kerja adalah busnya (realitas). Menghapus jurusan adalah jalan pintas birokrasi yang paling malas bagi sistem yang enggan berbenah secara kualitas.

Kita tidak boleh membiarkan pendidikan kita hanya menjadi pelayan bagi syahwat pasar yang terus berubah. Jika Akuntansi dianggap jenuh, kenapa bukan kualitasnya yang direvitalisasi? Kenapa bukan kurikulumnya yang didigitalisasi?

Seperti Digital Accounting, Data Analyst, E-commerce Management, Cybersecurity Junior, dll. Mengapa justru cita-cita siswanya yang diamputasi? Kesimpulannya tugas pendidikan adalah menyalakan api di kepala setiap siswa, bukan sekadar mencetak nomor urut di pintu gerbang industri. Jangan sampai demi mengejar angka statistik “serapan kerja”, kita justru membunuh potensi kreatif dan kedaulatan nalar anak bangsa.

Penulis: Anas Maulana H. (Mahasiswa Komunikasi UIN Jakarta & Broadcasting yang fokus mengamati dinamika sosial, pendidikan, dan kebijakan politik)

Editor: Muzakki

Share It:

Tags :

Redaksi Setara

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Pupolar

Artikel Terbaru

Find Us on Youtube

SETARA.id

Menjadi media rujukan yang kredibel dalam membangun ruang publik yang setara, rasional, dan berkeadilan melalui jurnalisme yang berintegritas dan berbasis kepentingan publik.

Copyright © 2026 All Right Reserved Setara.id