
SETARA.ID, CIPUTAT – Lembaga Kajian dan Riset Rasionalika Darus Sunnah, Lingkar Studi Feminis Ciputat dan Interactive Talks menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Antara Tawa dan Luka: Bayang-Bayang Pelecehan di Balik Candaan”. Kegiatan ini turut dihadiri oleh beberapa komunitas diskusi, seperti Hantu Intelektual, Bunga Rampai hingga Dema IIQ Jakarta. 10/5/2026
Diskusi dibuka oleh Fahmi Sidiq selaku Ketua Lemkaris Rasionalika. Dia menegaskan bahwa kajian gender perlu digerakkan secara masif, terlebih di komunitas diskusi di lingkungan pesantren seperti Rasionalika.
“Terkadang kami juga yang nyantri sejak SMP, jenuh kalo bahasnya lurus lurus aja, perlu ada variasi agar lebih terbuka wawasannya”, ujar sang ketua.
Pemateri pertama, Anis Fazirotul Muhtar dari Lingkar Studi Feminis, memaparkan kerangka konseptual Sexual Gender-Based Violence (SGBV) atau Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual (KBGS). Anis juga mengupas pola kekerasan yang umum terjadi di lingkungan kampus, termasuk relasi kuasa dosen-mahasiswa dan senior-junior organisasi yang kerap abai terhadap perspektif korban. Berawal dari kalimat candaan dapat merusak psikis korban secara tidak sadar, dan seakan berlindung di kalimat candaan.
Dilanjutkan Pemateri kedua, yaitu Diah Rahmatul Faizah dari Pesantren Darus Sunnah, membawa dimensi yang lebih personal dan kontekstual. Diah berbagi pengalamannya tentang pelecehan seksual yang kerap dijumpai dalam layanan ojek daring yang kerap diawali candaan pula, sebuah ruang publik yang selama ini luput dari perhatian serius.
Sebagai orang yang berlatar belakang pendidikan di Fakultas Syariah dan Hukum, Diah menjelaskan beberapa peraturan perundang-undangan yang relevan dengan materi diskusi, antara lain UU No. 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS), sejarahnya hingga tantangan penerapannya. Ia menjelaskan pula asas kesetaraan yang ada dalam Islam dengan mengutip beberapa hadis yang pernah dikaji.
Setelah sesi tanya jawab, diskusi ditutup dengan seruan bahwa perjuangan melawan kekerasan berbasis gender merupakan tanggung jawab bersama. Jangan sampai isu KBGO menjadi masalah yang berulang-ulang dibahas di forum diskusi terjadi seakan menjadi permasalahan sistemik dan mengakar.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Rasionalika dan Lingkar Studi Feminis Ciputat dalam mendorong ekosistem kampus dan pesantren yang lebih sadar gender dan responsif terhadap isu kekerasan seksual.
Penulis: Mochammad Nagieb Jihadil Akbar (Co-Founder Interactive Talks)
Editor: Redaksi Setara


