Prabowo: Semua Partai Punya Patriot dan “Bajingan” Persatuan Bangsa Harus Diutamakan

Arif Siregar

Pidato Presiden Prabowo di Puncak Hari Koperasi Nasional ke 79 (Sumber Foto : Youtube CNN Indonesia)

SETARA.ID, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak terus larut dalam perbedaan politik setelah proses demokrasi yang telah berlangsung. Menurutnya, setiap partai politik memiliki tokoh yang berjuang demi kepentingan bangsa, tetapi juga ada beberapa oknum yang mengutamakan kepentingan pribadi dalam politik.

Pesan tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri Puncak Peringatan Hari Koperasi Nasional di Indonesia Arena, Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (12/7).

Dalam pidatonya, Prabowo menekankan bahwa perbedaan pilihan politik merupakan hal yang wajar dalam sistem demokrasi. Namun, ia mengingatkan agar perbedaan dalam politik tidak berkembang menjadi perpecahan di tengah masyarakat.

“Semua partai banyak patriot, banyak juga bajingannya,” ujar Prabowo di hadapan peserta yang hadir.

Pernyataan tersebut memicu respons spontan dari peserta berupa tawa dan tepuk tangan. Namun demikian argumentasi tersebut menuai pro dan kontra terhadap masyarakat, meski menggunakan diksi yang tegas, Prabowo melanjutkan pidatonya dengan menekankan pentingnya menjaga persatuan dan memperkuat semangat gotong royong dalam membangun bangsa.

Menurut Prabowo, Indonesia membutuhkan kolaborasi dari seluruh elemen masyarakat, termasuk pemerintah, pelaku usaha, organisasi kemasyarakatan, dan gerakan koperasi. Ia menilai pembangunan nasional tidak dapat berjalan optimal apabila energi bangsa terus dihabiskan oleh konflik politik yang berkepanjangan.

Momentum Hari Koperasi Nasional juga dimanfaatkan Prabowo untuk menegaskan kembali peran koperasi sebagai bagian dari ekonomi kerakyatan. Ia menyebut koperasi sebagai wadah yang mampu memperkuat kesejahteraan masyarakat apabila dikelola secara profesional, transparan, dan berpihak kepada anggotanya.

Pidato tersebut menjadi perhatian publik karena penggunaan istilah “bajingan” dalam forum kenegaraan, diksi yang dinilai tidak lazim disampaikan dalam acara resmi kenegaraan. Di satu sisi, pilihan kata tersebut dianggap mampu menarik perhatian publik dan menegaskan kritik Presiden terhadap oknum yang mengutamakan kepentingan pribadi. Di sisi lain, penggunaan bahasa yang bernada keras memunculkan pertanyaan mengenai standar komunikasi pejabat negara dalam menyampaikan pesan kepada masyarakat, mengingat pidato kenegaraan umumnya mengedepankan diksi yang lebih formal dan inklusif.

Terlepas dari polemik tersebut, substansi pidato Prabowo tetap menekankan pentingnya persatuan di atas perbedaan politik serta penguatan koperasi sebagai pilar ekonomi kerakyatan. Perdebatan mengenai gaya komunikasi Presiden pun menjadi pengingat bahwa selain isi kebijakan, cara seorang kepala negara menyampaikan pesan juga memiliki pengaruh terhadap kualitas ruang publik dan budaya politik yang berkembang di tengah masyarakat.

Editor : Redaksi Setara

Share It:

Tags :

Arif Siregar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Pupolar

Artikel Terbaru

Find Us on Youtube

SETARA.id

Menjadi media rujukan yang kredibel dalam membangun ruang publik yang setara, rasional, dan berkeadilan melalui jurnalisme yang berintegritas dan berbasis kepentingan publik.

Copyright © 2026 All Right Reserved Setara.id