
SETARA.ID, OPINI – Oktober 1986 terjadi sebuah peristiwa di dalam rumah kayu putih bernama Reykjavik, Islandia yang nyaris mengubah dunia selamanya. Mikhail Gorbachev dan Ronald Reagan duduk berhadapan bukan sekedar untuk membatasi hulu ledak, melainkan untuk membahas penghapusan total senjata nuklir dalam sepuluh tahun.
Meskipun pertemuan itu berakhir tanpa tanda tangan karena perselisihan teknis, namun semangat Reykjavik membuktikan satu hal, yaitu dunia tanpa nuklir bukanlah sesuatu hal yang utopis, melainkan hasil pilihan politik yang hampir menjadi nyata. Gorbachev datang dengan keberanian moral untuk melampaui logika saling menghancurkan (Mutually Assured Destruction).
Warisan Gorbachev yang Tegerus
Gorbachev adalah tokoh yang paling dekat dalam membawa kita ke ambang dunia tanpa nuklir. Keikhlasannya untuk melakukan de-eskalasi mengakhiri Perang Dingin tanpa pertumpahan darah besar. Namun, 40 tahun kemudian, di tahun 2026 ini, kita justru menyaksikan mimpi itu runtuh berkeping-keping.
Kita berada di titik nadir diplomasi nuklir dengan beberapa realitas pahit. Pertama, runtuhnya perjanjian: Februari 2026 menandai berakhirnya masa berlaku New START, yaitu sebuah perjanjian pembatasan nuklir terakhir antara AS dan Rusia, tanpa adanya pengganti. Untuk pertama kalinya dalam lima dekade, dua kekuatan nuklir terbesar dunia beroperasi tanpa batasan hukum.
Kedua, retorika Rusia: konflik di Ukraina telah menormalisasi ancaman penggunaan nuklir taktis dalam percakapan publik, sesuatu yang dianggap tabu selama era Gorbachev, Ketiga, krisis Timur Tengah dan Asia: Serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada tahun 2025 dan kegagalan diplomasi di Semenanjung Korea menunjukkan bahwa pendekatan pencegahan (deterrence) telah berganti menjadi konfrontasi fisik.
Dunia pernah berada di puncak optimisme saat KTT Reykjavik tahun 1986, di mana Gorbachev dan Reagan hampir menyepakati penghapusan total senjata nuklir yang kemudian disusul aksi nyata melalui Traktat INF tahun 1987 untuk memusnahkan rudal jarak menengah.
Namun, warisan damai ini luntur ketika memasuki tahun 2020-2025, saat AS, Rusia, dan Tiongkok justru melakukan modernisasi global besar-besaran terhadap arsenal mereka. Kini per Februari 2026, berakhirnya perjanjian New START resmi membawa dunia ke dalam era tanpa batas, yaitu sebuah masa depan cukup berbahaya di mana jumlah hulu ledak nuklir tidak lagi dibatasi oleh hukum internasional.
Mengapa Kita Semakin Jauh?
Kita sedang mengalami krisis kepemimpinan imajinatif. Gorbachev merupakan seseorang yang memiliki imajinasi untuk membayangkan dunia yang berbeda. Pemimpin hari ini justru terjebak dalam relisme sempit yang menganggap keamanan hanya bisa dicapai dengan kepemilikan senjata nuklir yang lebih canggih.
Jika 40 tahun lalu kita hampir mencapai titik nol, hari ini justru kita mempercepat langkah menuju kehancuran dunia yang tidak disengaja. Pada era saat ini kita banyak melihat tentang kemajuan teknologi, namun dalam hal keamanan global, kita sebenarnya sedang mengalami kemunduran peradaban.
Dunia akan merindukan sosok seperti Gorbachev bukan karena dia sempurna, tetapi karena dia berani untuk mencoba mewujudkan mimpinya bahwa perdamaian lebih berharga. Tanpa semangat Reykjavik, masa depan kita mungkin hanyalah debu yang tersisa dari kegagalan diplomasi hari ini.
Penulis: Anatakiza Shakia Jauhari
Editor: Redaksi Setara


