Doktrin Truman dan Awal Perebutan Hegemoni Dunia

Redaksi Setara

Penulis

When You Play the Game of Cold War, You Win or You Fall: Strategi Harry S. Truman dalam Perebutan Dominasi Dunia. (Foto: Istimewa)

SETARA.ID, BIOGRAFI – “When you play the game of thrones, you win or you die.” Kalimat dari Game of Thrones tersebut bukan sekadar dialog fiksi, melainkan gambaran realistis tentang bagaimana kekuasaan bekerja dalam politik internasional.

Dalam serial karya George R. R. Martin itu, perebutan Iron Throne membuat setiap house saling mencurigai, membangun aliansi, mengkhianati lawan, hingga menggunakan kekuatan militer demi mempertahankan dominasi. Tidak ada moralitas yang benar-benar murni dalam perebutan kekuasaan. Yang bertahan bukan yang paling baik, tetapi yang paling strategis.

Fenomena tersebut sebenarnya juga terlihat dalam Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet setelah Perang Dunia II. Dunia tidak lagi menghadapi perang terbuka seperti sebelumnya, tetapi memasuki konflik ideologi yang jauh lebih kompleks. Ketegangan global berubah menjadi perebutan pengaruh, teknologi, ekonomi, dan dominasi politik dunia. Dalam konteks inilah sosok Harry S. Truman muncul sebagai salah satu aktor penting yang membentuk arah politik internasional modern.

Jika dibandingkan dengan karakter dalam Game of Thrones, Truman memiliki kemiripan yang cukup kuat dengan Tywin Lannister. Keduanya bukan sosok populis yang mengandalkan karisma, melainkan pemimpin realistis yang memahami bahwa kekuasaan harus dijaga melalui strategi, pengaruh, dan kontrol terhadap lawan politik.

Harry S. Truman dan Ketakutan Amerika terhadap Soviet

Harry S. Truman menjadi Presiden Amerika Serikat pada tahun 1945 menggantikan Franklin D. Roosevelt yang meninggal dunia di tengah situasi global yang tidak stabil. Perang Dunia II memang telah berakhir, tetapi kemenangan Sekutu justru melahirkan ancaman baru. Uni Soviet mulai memperluas pengaruh komunismenya di Eropa Timur dan menjadi rival besar Amerika Serikat dalam menentukan arah dunia pascaperang.

Bagi Truman, ancaman Soviet bukan sekadar masalah ideologi, tetapi ancaman terhadap dominasi Amerika dalam sistem internasional. Ketakutan tersebut mendorong Truman membangun kebijakan luar negeri yang jauh lebih agresif dibanding sebelumnya. Salah satu kebijakan terpentingnya adalah Truman Doctrine, yaitu strategi Amerika untuk membantu negara-negara yang dianggap terancam oleh komunisme.

Melalui kebijakan ini, Amerika Serikat mulai aktif mencampuri berbagai konflik internasional demi membendung pengaruh Soviet. Strategi tersebut dikenal sebagai containment policy. Secara tidak langsung, Truman ingin memastikan bahwa Uni Soviet tidak menjadi penguasa tunggal dalam politik global. Dunia pun mulai terbagi menjadi dua kubu besar: Blok Barat yang dipimpin Amerika dan Blok Timur yang dipimpin Soviet.

Kondisi ini sangat mirip dengan situasi di Westeros ketika house-house besar saling berebut pengaruh demi mempertahankan posisi mereka di hadapan Iron Throne. Dalam dunia seperti itu, rasa takut menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan politik.

Tywin Lannister dalam Tubuh Truman

Kemiripan Truman dengan Tywin Lannister terlihat dari cara keduanya memahami politik sebagai arena realistis yang keras. Tywin Lannister dikenal sebagai sosok yang percaya bahwa stabilitas harus dijaga dengan segala cara. Ia tidak terlalu peduli pada citra moral selama kekuasaan House Lannister tetap aman. Baginya, politik bukan soal idealisme, tetapi soal siapa yang mampu mengontrol keadaan.

Truman menunjukkan pola yang hampir sama. Ia memahami bahwa Amerika tidak bisa mempertahankan posisinya hanya melalui pidato demokrasi atau slogan kebebasan. Karena itu, ia membangun dominasi Amerika melalui kekuatan ekonomi, militer, dan aliansi global. Truman mendukung pembentukan NATO sebagai alat pertahanan kolektif Barat sekaligus simbol bahwa Amerika memiliki jaringan kekuatan yang luas.

Cara Truman membangun aliansi mirip dengan strategi Tywin yang menggunakan hubungan antar-house untuk memperkuat posisi politik keluarganya. Tywin sadar bahwa perang tidak selalu dimenangkan dengan pedang, tetapi juga melalui pengaruh dan kontrol terhadap pihak lain. Truman pun melakukan hal serupa dalam skala global. Bantuan ekonomi Amerika melalui Marshall Plan bukan hanya bentuk bantuan kemanusiaan, melainkan strategi geopolitik agar negara-negara Eropa tetap berada di bawah pengaruh Barat.

Dalam perspektif politik realistis, tindakan Truman sebenarnya cukup rasional. Ia memahami bahwa dunia internasional tidak berjalan berdasarkan moralitas, melainkan kepentingan nasional. Negara yang lemah akan dikendalikan, sedangkan negara yang kuat akan menentukan arah sistem global. Pandangan seperti ini sangat identik dengan pola politik di Game of Thrones, di mana kekuasaan menjadi tujuan utama setiap house.

Perang Dingin sebagai Perebutan Iron Throne Dunia

Perang Dingin pada akhirnya bukan hanya konflik antara dua negara, tetapi perebutan “Iron Throne” dunia internasional. Amerika dan Soviet berusaha menjadi pusat kekuatan global dengan membawa ideologi masing-masing. Negara-negara lain sering kali hanya menjadi pion dalam permainan besar tersebut.

Konflik di Korea, Vietnam, hingga Timur Tengah menunjukkan bahwa perebutan pengaruh global sering dilakukan melalui proxy war. Amerika dan Soviet jarang bertempur langsung, tetapi menggunakan negara lain sebagai arena pertarungan kepentingan. Situasi ini mengingatkan pada strategi antar-house di Westeros yang sering memanfaatkan wilayah atau kelompok lain demi memperkuat posisi politik mereka.

Harry S. Truman mungkin tidak hidup di Westeros, tetapi strategi politiknya menunjukkan kemiripan yang kuat dengan Tywin Lannister. Keduanya memahami bahwa mempertahankan kekuasaan membutuhkan strategi, aliansi, dan kemampuan membaca ancaman sejak awal. Truman berhasil menjadikan Amerika Serikat sebagai pemimpin Blok Barat, tetapi keberhasilan itu juga melahirkan dunia yang dipenuhi ketegangan dan ketakutan nuklir.

Perang Dingin membuktikan bahwa politik internasional sering kali bekerja seperti Game of Thrones. Tidak ada teman abadi, yang ada hanyalah kepentingan dan perebutan dominasi. Dalam permainan besar tersebut, Truman memainkan perannya dengan sangat realistis: dingin, strategis, dan selalu berusaha memastikan bahwa Amerika tetap duduk di “Iron Throne” dunia internasional.

PENULIS: AZIZ BASYARAHIL (KETUA KOMISI IV SEMA UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA)

EDITOR: MUZAKKI

Share It:

Tags :

Redaksi Setara

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Pupolar

Artikel Terbaru

Find Us on Youtube

SETARA.id

Menjadi media rujukan yang kredibel dalam membangun ruang publik yang setara, rasional, dan berkeadilan melalui jurnalisme yang berintegritas dan berbasis kepentingan publik.

Copyright © 2026 All Right Reserved Setara.id