
SETARA.ID, BIOGRAFI – Ada adegan di Chapter 1 Red Dead Redemption 2 (RDR2) yang sulit dilupakan. Dutch van der Linde berdiri di depan gengnya, suaranya tenang, dan berkata: “Have some goddamn faith.” Tidak ada rencana konkret. Tidak ada detail. Hanya keyakinan yang ditawarkan dan orang-orang di sekelilingnya tetap mengangguk.
Saat memainkan adegan itu saya langsung teringat John F. Kennedy di podium Konvensi Nasional Demokrat, Juli 1960, menyebut frasa yang akan menghantui politik Amerika: “The New Frontier.” Tidak ada rincian program, tidak ada angka. Hanya visi. Dan ribuan orang langsung berdiri.
Dutch adalah fiksi. Kennedy adalah sejarah. Tapi keduanya menjalankan satu mekanisme yang sama: membuat orang mengikuti bukan karena rencana, tapi karena gambaran diri mereka yang lebih baik yang ditawarkan sang pemimpin.
Rencana yang Tidak Pernah Mendarat
Di misi “Who the Hell is Leviticus Cornwall?”, geng merampok kereta pribadi Cornwall dan menemukan bearer bonds obligasi yang diterima taipan itu dari negara sebagai imbalan atas proyeknya mengusir suku Wapiti dari tanah kaya minyak. Begitu bonds diserahkan, Dutch langsung berkata: “Exactly as I planned.” Bukan karena rencana itu sempurna. Karena itulah yang perlu didengar orang-orang di sekitarnya.
Kennedy tidak berbeda. Pada April 1961, dia menyetujui invasi Bay of Pigs: 1.400 eksil Kuba terlatih CIA menyerbu pantai selatan Kuba. Mereka kalah dalam kurang dari 24 jam. CIA menyebutnya secara internal sebagai “kegagalan sempurna.” Kennedy membatalkan dukungan udara di detik-detik terakhir karena takut keterlibatan AS terekspos dan justru meninggalkan pasukannya tanpa perlindungan.
Dalam RDR2, setiap kegagalan Dutch melahirkan rencana baru ” i have a plan” yang lebih ambisius. Tidak pernah ada pengakuan bahwa dia yang salah. Situasinya yang berubah. Musuhnya yang curang. Polanya identik.
Mitos Lebih Kuat dari Biografi
Kata “Camelot” tidak pernah dipakai untuk mendeskripsikan pemerintahan Kennedy saat dia masih hidup. Itu adalah konstruksi Jacqueline Kennedy dibuat dalam satu wawancara dengan jurnalis Theodore White, seminggu setelah pembunuhan suaminya, untuk mengaitkan presidens Kennedy dengan legenda Raja Arthur. Satu wawancara. Tapi efeknya bertahan hingga hari ini.
Geng Dutch runtuh di epilog RDR2, dan ia sendiri mati tragis di game pertamanya, tapi legendanya tidak. Kita tahu dia pengkhianat. Kita tahu dia mengorbankan orang-orangnya. Tapi narasi yang dia bangun tentang kebebasan, tentang dunia yang tidak adil tetap lebih kuat dari faktanya.
Itulah yang membuat padanan ini lebih dari sekadar analogi yang menarik. Pemimpin paling berbahaya bukan yang berbohong kepada pengikutnya. Pemimpin paling berbahaya adalah yang pertama kali berbohong kepada dirinya sendiri yang benar-benar percaya bahwa rencananya akan berhasil, bahwa musuhnya memang jahat, bahwa pengorbanan yang dia minta memang diperlukan.
Dutch van der Linde bukan penipu yang dingin. Dia idealis yang rusak. Dan itu, kebetulan, juga merupakan deskripsi yang cukup akurat untuk banyak pemimpin paling berpengaruh dalam sejarah modern.
PENULIS: RAJA AKBAR FRAHLEVI TARMIJI (MAHASISWA FISIP UIN JAKARTA)
EDITOR: REDAKSI SETARA


